Sunday, April 7, 2013

Adat Papua


BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar belakang
Adat adalah suatu kebiasaan masarakat/ suku bangsa yang di lakukan secara turun temurun. Dari suatu generasi ke generasi selanjutnya, di indonesia terdapat banyak sekali suku bangsa, budaya,bahasa dan adat. Yang sampai saat ini masih terjaga kelestarian nya. Dari beragam suku bangsa tersebut banyak sekali kebiasaan kebiasaan yang menjadi ciri khas suatu daerah. Salah satunya adalah adat perkawinan yang menjadi pokok bahasan dalam tulisan ini di mana adat perkawinan suatu suku biasanya berbeda dengan suku lainnya keunikan adat perkawinan suku di papua akan di bahas dalam tulisan ini kekayaan adat di papua yang masih sangat asri atau terjaga kelestariannya dan banyak nya adat perkawinan yang berbeda di tiap suku yang beragam di papua menjadi dasar dalam penulisan ini.
B.     Rumusan masalah
Dari rumusan masalah dapat di tentukan permasalahan sebagai berikut :
·        Suku suku apa saja yang ada di papua ?
·        Bagai mana adat perkawinannya ?
·        Bagaimana peranan hukum adat dalam perkawinan adat di papua ?

C.     Tujuan
Tujuan dari penulisan ini adalah untuk  memperkenalkan salah satu budaya suku bangsa yang terdapat di Indonesia dimana nantinya pembaca di ajak untuk mengenal kebudayaan khususnya budaya perkawinan di Papua. Yang menjadi topik utama dalam tulisan ini, keunikan serta adat yang masih asli dari sukunya menjadikannya tulisan yang menarik untuk diketahui bersama. Dan menjadi pengetahuan yang baru untuk menambah wawasan kita. Serta menjadikannya bahan refleksi bagi kehidupan bermasarakat agar rasa toleransi semakin berkembang di tengah-tengah kita. Yang menjadikan kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi semakin tentram dalam kedamaian.  


BAB II
PEMBAHASAN

A.          Suku-suku yang terdapat di papua
Banyak sekali suku bangsa yang ada di indonesia hal itu di kernakan banyaknya pulau-pulau yang ada di indonesia  dan letak geografis indonesia yang di apit oleh dua benua yaitu asia dan australia. Hal ini menimbulkan kekayaan budaya yang ada di indonesia salah satunya kebudayaan adat perkawinan. Dimana di setiap daerah atau kepulauan di indonesia adat perkawinannya berbeda di setiap tempat, inilah yang membuat keunikan kebudayaan tersebut. Papua adalah daerah kawasan timur dari indonesia di mana adat istiadat mereka masih sangat kental dan di junjung tinggi oleh setiap sukunya. Beberapa suku yang ada di papua sebagai berikut :
a)       Suku Dani
Dani adalah salah satu dari sekian banyak suku bangsa yang terdapat atau bermukim atau mendiami wilayah Pegunungan Tengah, Papua, Indonesia dan mendiami keseluruhan Kabupaten Jayawijaya serta sebagian kabupaten Puncak Jaya. keseluruDasar religi masyarakat Dani adalah menghormati roh nenek moyang dan juga diselenggarakannya upacara yang dipusatkan pada pesta babi. Konsep kepercayaan/keagamaan yang terpenting adalah Atou, yaitu kekuatan sakti para nenek moyang yang diturunkan secara patrilineal (diturunkan kepada anak laki-laki). Kekuasaan sakti ini antara lain :
·       kekuatan menjaga kebun
·       kekuatan menyembuhkan penyakit dan menolak bala
·       kekuatan menyuburkan tanah Untuk menghormati nenek moyangnya, suku Dani membuat lambang nenek moyang yang disebut Kaneka. Selain itu juga adanya Kaneka Hagasir yaitu upacara keagamaan untuk menyejahterakan keluarga masyarakat serta untuk mengawali dan mengakhiri perang.
Pernikahan orang Dani bersifat poligami diantaranya poligini. Keluarga batih ini tinggal di satu – satuan tempat tinggal yang disebut silimo. Sebuah desa Dani terdiri dari 3 & ndash; 4 slimo yang dihuni 8 & ndash; 10 keluarga. Menurut mitologi suku Dani berasal dari keuturunan sepasang suami istri yang menghuni suatu danau di sekitar kampung Maina di Lembah Baliem Selatan. Mereka mempunyai anak bernama Woita dan Waro. Orang Dani dilarang menikah dengan kerabat suku Moety sehingga perkawinannya berprinsip eksogami Moety (perkawinan Moety / dengan orang di luar Moety).
b)      Suku Bauzi
Suku Bauzi atau orang Baudi merupakan satu dari sekitar 260-an suku asli yang kini mendiami Tanah Papua. Oleh lembaga misi dan bahasa Amerika Serikat bernama Summer Institute of Linguistics (SIL), suku ini dimasukan dalam daftar 14 suku paling terasing. Badan Pusat Statistik (BPS) Papua pun tak ketinggalan memasukan suku Bauzi kedalam daftar 20-an suku terasing yang telah teridentifikasi. Bagaimana tidak, luasnya hutan belantara, pegunungan, lembah, rawa hingga sungai-sungai besar yang berkelok-kelok di sekitar kawasan Mamberamo telah membuat suku ini nyaris tak bersentuhan langsung dengan peradaban modern. Kehidupan keseharian suku ini masih dijalani secara tradisonal. Menurut sejarah penyebarannya, suku Bauzi berasal dari daerah Waropen utara. Tapi dalam kurun waktu yang lama menyebar ke selatan danau Bira, Noiadi dan tenggara Neao, dua daerah yang terletak di perbukitan Van Rees Mamberamo. Panjang wilayah ini kurang lebih 80 kilometer. Suku Bauzi bisa menyebar karena memiliki kemampuan berpindah menggunakan perahu menyusuri sungai dan berjalan kaki. Jumlah penduduknya hanya beberapa ribuan jiwa. SIL di tahun 1991 pernah merilis data yang memperlihatkan jumlah orang Bauzi sekitar 1.500 jiwa. Mereka menyebar di bagian utara dan tengah wilayah Mamberamo. Kini jumlah jiwa suku Bauzi bisa dipastikan telah bertambah tiap tahun, walaupun belum ada data resmi mengenai perkembangan mereka.
Sebagai suku yang menempati kawasan terisolir, sebagian lelaki Bauzi masih mengenakan cawat. Ini berupa selembar daun atau kulit pohon yang telah dikeringkan lalu diikat dengan tali pada ujung alat kelamin. Mereka juga memasang hiasan berupa tulang pada lubang hidung. Sedangkan para wanita mengenakan selembar daun atau kulit kayu yang diikat dengan tali di pinggang untuk menutupi auratnya. Tapi tidak mengenakan penutup dada. Pada acara pesta adat dan penyambutan tamu, kaum lelaki dewasa akan mengenakan hiasan di kepala dari bulu kasuari dan mengoles tubuh dengan air sagu. Sebagian besar suku ini masih hidup pada taraf meramu, berburu dan semi nomaden (berpindah-pindah). Karena itu, mereka membuat sejumlah peralatan seperti, panah, tombak, parang, pisau belati, dan lain-lain untuk berburu.
Mereka berburu binatang hutan seperti babi, kasuari, kus-kus dan burung. Buruan itu dimasak dengan cara dibakar atau bakar batu. Selain itu, Suku Bauzi juga menokok sagu sebagai makanan pokok dan menanam umbi-umbian. Namun jarang mengkonsumsi sayur-sayuran. Itulah sebabnya pada anak-anak balita, ibu hamil dan ibu menyusui dari suku ini sering mengalami gejala kurang gizi dan animea. Meski terbatas, mereka juga memiliki pengetahuan mengenai cara pengobatan alami dengan memanfaatkan tumbuh-tumbuhan hutan (etno-medicine). Suku Bauzi sejak awal hidup secara nomaden, menyesuaikan diri dengan kebutuhan makanan dan kenyamanan suatu wilayah. Mereka membangun bifak di pinggiran sungai dan hutan agar membantu proses perburuan, meramu atau berkebun.
Hanya saja, mereka tidak mengenal cara bercocok tanam yang baik. Dengan bantuan para misionaris, suku ini bisa sedikit mengenal cara-cara berkebun. Pada perkampungan kecil tempat bermukim, mereka membangun rumah-rumah gubuk berdinding kulit kayu dan beratap daun rumbia (daun sagu) atau kulit pohon. Tempat hunian itu dibuat berbentuk rumah panggung. Hingga kini mereka masih membangun rumah seperti itu. Karena tergolong suku terasing, sebagian besar suku Bauzi belum bisa berbahasa Melayu (Indonesia), termasuk tidak bisa baca tulis dan berhitung. Mereka hanya berkomunikasi secara lisan dengan menggunakan bahasa lokal.
c)       Suku Amungme
Suku Amungme adalah kelompok Melanesia terdiri dari 13.000 orang yang tinggal di dataran tinggi Papua Indonesia.Mereka menjalankan pertanian berpindah, menambahnya dengan berburu dan mengumpul. Amungme sangat terikat kepada tanah leluhur mereka dan menganggap sekitar gunung suci. Gunung yang dijadikan pusat penambangan emas dan tembaga oleh PT. Freeport Indonesia merupakan gunung suci yang di agung-agungkan oleh masyarakat Amungme, dengan nama Nemang Kawi. Nemang artinya panah dan kawi artinya suci. Nemang Kawi artinya panah yang suci (bebas perang) perdamaian. Wilayah Amungme di sebut Amungsa Hal ini telah menimbulkan gesekan dengan pemerintah Indonesia, yang ingin mendayagunakan persediaan mineral yang luas yang terdapat di sekitarnya. Masalah terbesar yang dihadapi Amungme adalah banyaknya jumlah tambang, dimiliki oleh Amerika Serikat dan Kerajaan Bersatu, terletak di pusat wilayah Amungme. Pertambangan emas dan tembaga besar-besaran telah menghancurkan lansekap dan menuntun ke banyak protes, yang telah banyak ditekan dengan kekerasan oleh militer Indonesia.
d)      Suku asmat
Suku Asmat adalah sebuah suku di Papua. Suku Asmat dikenal dengan hasil ukiran kayunya yang unik. Populasi suku Asmat terbagi dua yaitu mereka yang tinggal di pesisir pantai dan mereka yang tinggal di bagian pedalaman. Kedua populasi ini saling berbeda satu sama lain dalam hal dialek, cara hidup, struktur sosial dan ritual. Populasi pesisir pantai selanjutnya terbagi ke dalam dua bagian yaitu suku Bisman yang beSuku Asmat adalah nama dari sebuah suku terbesar dan paling terkenal diantara sekian banyak suku yang ada di Papua, Irian Jaya, Indonesia. Salah satu hal yang membuat suku asmat cukup dikenal adalah hasil ukiran kayu tradisional yang sangat khas. Beberapa ornamen / motif yang seringkali digunakan dan menjadi tema utama dalam proses pemahatan patung yang dilakukan oleh penduduk suku asmat adalah mengambil tema nenek moyang dari suku mereka, yang biasa disebut mbis. Namun tak berhenti sampai disitu, seringkali juga ditemui ornamen / motif lain yang menyerupai perahu atau wuramon, yang mereka percayai sebagai simbol perahu arwah yang membawa nenek moyang mereka di alam kematian. Bagi penduduk asli suku asmat, seni ukir kayu lebih merupakan sebuah perwujudan dari cara mereka dalam melakukan ritual untuk mengenang arwah para leluhurnya.rada di antara sungai Sinesty dan sungai Nin serta suku Simai. Suku Asmat adalah suku yang menganut Animisme, sampai dengan masuknya para Misionaris pembawa ajaran baru, maka mereka mulai mengenal agama lain selain agam nenek-moyang. Dan kini, masyarakat suku ini telah menganut berbagai macam agama, seperti Protestan, Khatolik bahkan Islam. Seperti masyarakat pada umumnya, dalam menjalankan proses kehidupannya, masyarakat Suku Asmat pun, melalui berbagai proses, yaitu :
·         Kehamilan, selama proses ini berlangsung, bakal generasi penerus dijaga dengan baik agar dapat lahir dengan selamat dengan bantuan ibu kandung alau ibu mertua.
·         Kelahiran, tak lama setelah si jabang bayi lahir dilaksanakan upacara selamatan secara sederhana dengan acara pemotongan tali pusar yang menggunakan Sembilu, alat yang terbuat dari bambu yang dilanjarkan. Selanjutnya, diberi ASI sampai berusia 2 tahun atau 3 tahun.
·         Pernikahan, proses ini berlaku bagi seorang baik pria maupun wanita yang telah berusia 17 tahun dan dilakukan oleh pihak orang tua lelaki setelah kedua belah pihak mencapai kesepakatan dan melalui uji keberanian untuk membeli wanita dengan mas kawinnya piring antik yang berdasarkan pada nilai uang kesepakatan kapal perahu Johnson, bila ternyata ada kekurangan dalam penafsiran harga perahu Johnson, maka pihak pria wajib melunasinya dan selama masa pelunasan pihak pria dilarang melakukan tindakan aniaya walaupun sudah diperbolehkan tinggal dalam satu atap.
·         Kematian, bila kepala suku atau kepala adat yang meninggal, maka jasadnya disimpan dalam bentuk mumi dan dipajang di depan joglo suku ini, tetapi bila masyarakat umum, jasadnya dikuburkan. Proses ini dijalankan dengan iringan nyanyian berbahasa Asmat dan pemotongan ruas jari tangan dari anggota keluarga yang ditinggalkan.
e)     Suku biak
Pada pemerintahan Belanda berkuasa di daerah Papua hingga awal tahun 1960-an nama yang dipakai untuk menamakan kepulauan Biak - Numfor adalah Schouten Eilanden. Nama lain yang sering dijumpai dalam laporan – laporan tua untuk daerah kepulauan ini adalah Numfor atau Wiak. fonem “W” pada kata wiak berasal dari fonem  “V”, yang kemudian berubah menjadi “B” sehingga muncullah kata Biak.
        Menurut Mite, warga Klen Burdar memutuskan berangkat meninggalakan pulau Warmambo (nama asli pulau Biak). Mereka melihat pulau Warmambo Nampak di atas permukaan laut kemudian merka berkata V’iak Wer’ atau ‘V’iak artinya muncul lagi.Orang Biak, baik yang bertempat tinggal di kepulauan Biak-Numfor maupun berdomisili di tempat – tempat perantauan menggunakan satu bahasa yaitu : bahasa Biak. Namun secara prinsip dialek – dialek (lafal) yang berbeda. Berikut ini dialek (lafal) dalam sub-klan Biak seperti ; dialek Sawyas, Manwor, Bosnik, Swapodibo, Samber, Sopen dan dialek Numfor. Secara linguistic, bahasa Biak dikategorikan dalam keluarga bahasa Austronesia ( Muller, 1876-1888) Daerah penyebaran suku Biak sangatlah luas seperti : pulau Biak, Supiori, Numfor, Padaido, Rani, Insumbabi, Meosbefandi, Ayau, Mapia, Doreri, Manokwari, Ransiki, Oransbari, Nuni, Pantai Utara kepla burung hingga ke Sorong, dan pulau – pulau Raja Ampat.  Suku Biak memiliki sistem mata pencariharian seperti nelayan (melaut) dan bertani (meramu). Suku Biak menangkap ikan dengan menggunakan  jaring inanai dan arsam untuk menangkap ikan terbang dan juga ikan hiu, hal ini dilakukan dengan menggunakan perahu yang disebut dengan waipapa.
        Suku Biak juga meramu atau berburu binatang hutan sebagai makanannya seperti ; berburu babi, kuskus, tikus tanah, dan ular pohon. Dapat pula mengambil jenis sayur – sayuran yang ada dihutan sebagai makanannya.

Masih ada banyak lagi suku-suku di papua yang tidak bisa di jelaskan satu persatu karena terdapat banyak suku di papua dengan keanekaragaman budaya nya. Di mana meraka di setiap suku memiliki ciri khas tersendiri yang mana mereka masih berpegang teguh pada budaya yang di wariskan oleh para leluhur mereka. Yang sampai saat ini masih mereka lestarikan dan tanpa tersentuh kebudayaan asing.

B.               Perkawinan suku biak
SUKU Biak merupakan salah satu kelompok masyarakat Papua yang hidup dan tinggal di kabupaten Biak Numfor. Turun temurun, setiap kegiatan yang terkait dengan alur kehidupan mereka berjalan berdasarkan aturan adat. Aturan adat itu berasal dari para leluhur suku Biak yang diyakini sebagai tetua adat. Salah satu aturan adat yang harus dijalani yakni prosesi adat sebelum warga Biak melangsungkan pernikahan.Sebelum melangsungkan pernikahan, pihak keluarga dari lelaki Biak yang ingin menikah itu diwajibkan untuk melamar wanita calon pendamping. Di Biak, terdapat dua cara untuk melamar calon pengantin wanita. Pertama, pinangan dilakukan oleh pihak orang tua lelaki sewaktu anak lelaki mereka ataupun anak gadis yang akan dilamar masih berusia anak-anak. Dalam bahasa Biak, tradisi ini disebut Sanepen. Cara yang kedua yakni Fakfuken, orang tua lelaki melamar gadis yang akan menjadi pengantin setelah kedua anak mereka berumur minimal 15 tahun. Pada saat melamar itu, pihak lelaki membawa Kaken atau tanda perkenalan seperti gelang ataupun kalung dari manik-manik. Tidak ada ketentuan adat, berapa banyak kaken yang harus diserahkan, jumlah dan jenisnya berdasarkan pada kemampuan materi dari pihak keluarga lelaki. Jika orang tua dari pihak perempuan menerima lamaran itu, mereka juga memberikan kaken kepada pihak lelaki. Sama halnya dengan tanda perkenalan yang diberikan oleh pihak lelaki, pihak perempuan memberikan kaken sesuai dengan kemampuannya. Jika kedua belah pihak telah setuju untuk menyelenggarakan pernikahan, mereka menentukan mas kawin yang nantinya diberikan pihak lelaki kepada pihak wanita. Dulu, mas kawin itu umumnya berupa Kamfar yakni gelang dari kulit kerang. Jika lelaki yang akan menikah itu berasal dari keluarga terpandang, ia memberikan sebuah perahu layar sebagai mas kawin. Namun seiring dengan perkembangan jaman, suku Biak mengganti jenis mas kawin itu dengan gelang yang terbuat dari perak. Setelah penentuan mas kawin, kedua orang tua dari kedua belah pihak pergi menuju rumah tetua adat suku Biak. Bagi suku Biak, tetua adat memiliki peran yang sangat penting. Begitu pentingnya peran tetua adat itu, pihak keluarga akan menyelenggarakan pernikahan pada hari yang oleh tetua adat dianggap sebagai hari baik. Sementara itu, segala macam kebutuhan pernikahan mulai dipersiapkan satu minggu menjelang hari pernikahan dilaksanakan. Pernikahan adat suku Biak mulai dilaksanakan satu hari sebelum hari pernikahan tiba. Kedua calon mempelai yang akan menikah mengawali tradisi ini dengan acara makan bersama dengan semua saudara lelaki dari pihak ibu kedua mempelai. Keesokan harinya, keluarga wanita mulai menghias sang gadis sesuai adat. Setelah dianggap tampil sempurna, barulah calon pengantin wanita dibawa menuju rumah pengantin lelaki. Di rumah pihak lelaki itulah, puncak acara dalam pernikahan adat suku Biak dilaksanakan. Ketika menikah, lelaki ataupun wanita Biak mengenakan pakaian adat Papua yang bentuknya hampir sama. Mereka juga memakai gelang, kalung, serta ikat pinggang dari manik-manik. Acara puncak pernikahan adat suku Biak diawali dengan penyerahan seperangkat senjata berupa tombak, panah, serta parang. Penyerahan itu diawali dari pihak keluarga wanita kepada pihak lelaki. Bagi suku Biak, penyerahan dari pihak wanita itu menjadi simbol bahwa keluarga wanita telah sepenuhnya menyerahkan anak gadis mereka kepada keluarga lelaki. Setelah diterima oleh wakil dari pihak lelaki, pihak keluarga lelaki menyerahkan pemberian yang bentuknya sama kepada pihak perempuan. Kali ini, pemberian ini menjadi simbol, keluarga lelaki telah menerima anak gadis itu dan menjaganya seperti anak mereka sendiri. Setelah itu, barulah kepala adat mulai mengawali inti acara pernikahan.
Inti acara pernikahan adat diawali dengan pemberian sebatang rokok yang tampak seperti cerutu. Rokok itu wajib dihisap oleh pengantin lelaki kemudian diisap oleh pengantin wanita. Tak lama kemudian, tetua adat memberikan dua buah ubi yang telah dibakar di atas bara api kepada kedua mempelai. Ketika itu, setiap pengantin memperoleh sebuah ubi. Doa dan mantera yang dibacakan oleh sang tetua adat mengiringi prosesi pemberian ubi itu kepada kedua mempelai. Dalam tradisi ini, doa merupakan permohonan restu kepada Tuhan agar kedua mempelai mendapat kebahagiaan. Setelah doa selesai dibacakan, kedua mempelai melaksanakan tradisi saling menyuapi ubi. Seluruh rangkaian acara pernikahan adat suku Biak ini diakhiri dengan makan bersama dengan seluruh keluarga dari kedua pihak dan para tamu
undangan. Dengan berakhirnya tradisi makan bersama itu, usai sudah seluruh rangkaian acara pernikahan adat suku Biak di kabupaten Biak Numfor, Papua.
Perkawinan yang di jelaskan di atas adalah salah satu contoh adat perkawinan yang terdapat di Papua masih banyak lagi adat perkawinan dari berbagai suku yang ada di papua, yang masih belum dapat di jelaskan satupersatu dalam tulisan ini. Suku yang ada di papua sangat beragam dimana setiap suku memiliki adat perkawinan yang berbeda dan memiliki ciri khas tersendiri. Kekuatan budaya yang di wariskan leluhur mereka mampu menangkal pengaruh dari budaya asing yang mereka percayai akan merusak kebudayaan mereka menjadi dasar untuk mereka mempertahankan kelestarian budaya mereka.
  
BAB III
PENUTUP
A.     Kesimpulan
Adat adalah suatu keebaiasaan yang di wariskan secara turun temurun oleh setiap suku bangsa kepada generasi penerusnya. Yang mana mereka mempercayakan adat tersebut untuk di lestarikan agar tetep eksis di tengah masarakat dan selalu menjadikan adat sebagai pedoman hidup bermasarakat dan bernegara. Seperti adat perkawinan yang telah di jelaskan di atas. Dimana suku Biak masih menggunakan adat perkawinan yang telah secara turun temurun di wariskan kepada mereka sampai saat ini. Segala tata cara perkawinan, perlengkapan perkawinan dan tradisi yang di wariskan tidak sama sekali terkontaminasi oleh kebudayaan asing yang telah banyak merusak moral bangsa ini. Suku Biak adalah salah satu dari sekian banyak suku yang hingga saat ini masih menjunjng tinggi tradisi yang telah di berikan kepada mereka oleh nenek moyang mereka. Banyak sekali simbol-simbol adat yang di gunakan untuk melansungkan upacara pernikahan yang menjadi sarat mutlak yang harus di penuhi agar dapat melansungkan perkawinan. Seperti di suku biak mempelai laki-laki harus memmberikan kaken (kalung, gelang dari manik-manik) sebagai tanda perkenalan dengan mempelai wanita. Dan juga bagi mempelai laki-laki yang terpandang maskawin yang harus di berikan adalah sebuah perahu layar, akan tetap seiring dengan berkembang nya zaman maskawin tersebut di ubah menjadi gelang dari perak. Masih banyak lagi simbol-simbol adat dalam pernikahan suku Biak yang harus di siapkan untuk melansungkan upacara pernikahan. Tiap daerah di Indonesia memiliki adat pernikahan yang berbeda di setiap suku bangsanya di mana mereka akan selalu menjaga tradisi turun temurun tersebut dan melestarikan nya. Akan tetepi  masih banyak juga suku bangsa di indonesia yang telah kehilangan jatidiri tradisi yang di gusur oleh kebidayaan asing yang menimbulkan gegerbudaya. Pada akhirnya pengaruh budaya asing yang telah merusak bangasa, di kembalikan kembali kepada setiap suku bangsa untuk bagaimana menyikapinya.

B.          Usulan dan Saran
Kita sebagai bangsa yang besar menjunjung tinggi Pancasila harusnaya memberikan sesuatu yang berkesan untuk bangsa ini dengan cara mencintai kebudayan dan tradisi kita sendiri. Dan menanamkan sikap nasionalismae yang tinggi, banyak budaya kita yang yang di klaim oleh negara lain untuk di jadikan kebudayaan mereka. Kenapa hal itu bisa terjadi ? pertanyaan inilah yang harus kita renugkan bagaimana kita sebagai bangsa yang besar sangat kurang sekali sikap nasionalisme kita yang menjadikan kita lemah untuk mengantisipasi hal yang demikaian. Bangsa yang besar sekali pun akan runtuh apabila warga negaranya tidak bersatu. Dan lebih mementingkan dirinya sendiri negara yang besar adalah negara yang di mana warga negaranya mempunyai sikap nasionalisme yang tinggi, mencintai kebudayaan dan menjaga kebudayaan yang teleh secara turun temurun di wariskan oleh nenek moyang bangsa kita. Pada akhirnya segala persoalah bangsa di kembalikan kepada sikap kita sendiri apakah kita mau menanamkan sikap nasionalisme dan menjunjung tinggi harkat martabat bangsa ini. 

Negara yang Tertinggal di Dunia Digital: Ketika Penipu Lebih Canggih dari Penegak Hukum

Negara yang Tertinggal di Dunia Digital: Ketika Penipu Lebih Canggih dari Penegak Hukum Perkembangan dunia saat ini bergerak dengan kecepat...