Menulis
Mengabadikan Pemikiran Dalam Peradaban
Motivasi itulah yang
sangat diperlukan dalam menulis, karena menulis merupakan suatu proses yang
melelahkan menuangkan fikiran dalam kata-kata yang kemudian dirangkai untuk
menjadi kalimat kemudian menjadi paragraph untuk dijadikan sebuah tulisan utuh.
Dalam setiap paragraph sendiri memiliki ide pokok atau gagasan pokok yang berbeda, tetapi tetap memiliki
keterikatan yang terjalin dengan rapi dalam rangkaian kata-kata yang berpadu
dengan harmoni mengalun dalam alam fikiran memainkan imajinasi, emosi yang ada
pada setiap pembaca sehingga ia betah dan tidak bosan dalam membaca. Inilah
yang menjadi acauan utama bagi setiap penulis selain memiliki pemikiran tentang
tulisan yang akan dibuat juga target yaitu pembaca yang akan menikmati tulisan
tersebut. Sehingga disini jelas bahwa menulis merupakan suatu proses kreatif
yang tidak semua orang dapat melakukannya diperlukan ketekunan, kemampuan,
pengetauhan, motivasi dan suasana yang nyaman dalam membauat tulisan yang enak
untuk dibaca apalagi mempertimbangkan kopi sebagai pendamping membaca tentu
tulisan harus lah manis dan dapat dinikmati.
Banyak penulis
mengatakan menulis “merawat peradaban merawat keabadian” karena tulisan yang
ada didalam buku baik itu cetak maupun elektronik kesemuannya tidak akan mati
ada yang mengatakan “penulisnya boleh mati, tetapi tidak dengan pemikiran yang
dituangkan dalam tulisannya” inilah satu-satunya jalan selain lukisan foto dan
video yang masih belum ditemukan pengantinya untuk menjadikan manusia abadi,
meskipun saat ini ada gagasan dimana manusia bisa menjadi abadi dengan
memindahkan otaknya ke tubuh robotic yang tidak pernah akan membusuk, ditambah
lagi dengan keberhasilan seorang dokter yang melakukan penyambungan kepala
tikus percobaan yang sengaja di penggal dan tetap hidup. Yang merupakan
kemajuan dunia medis yang berkembang dalam ilum pengetahuan dan teknologi. Akan
tetap gasagas itu sampai saat ini atau dalam waktu dekat ini belum akan
terwujud, masih diperlukan rangkaian penelitian, uji coba, teknologi pendukung
dan lain sebagainya. Yang pada intinya masih belum ada manusia yang dapat hidup
abadi di dunia ini.
Oleh karena itu saya
sangat setuju bahwa menulis itu adalah proses kereatif yang memiliki banyak
manfat bagi manusia yang memiliki kebutuhan yang kompleks, apalagi yang ingin
eksis dan abadi yang keberadannya ingin sekali di akui dunia tentu menulis bisa
di kedepankan karena selain bermanfaat untuk diri sendiri juga untuk membangun
peradaban dan tentunya orang lain. Tulisan sendiri pernah menjadi kekuatan yang
diperhitungkan di dunia, yang pernah digunakan oleh rezim nazi untuk melakukan
propaganda dan membenci bangsa yahudi yang mengakibatkan terjadinya perang
dunia. Di Indonesia sendiri tokoh-tokoh proklamasi adalah penulis ulung diamana
tulisannya mampu menyadarkan mengerakan bangsa Indonesia untuk lepas dari
penjajahan, mengelorakan semangat berapi api para pahlawan untuk bersedia mati
demi bangsa dan Negara demi merebut kemerdekaan dan masih banyak lagi kekuatan
tulisan yang mampu mengubah peradaban bahkan sampai saat ini. Ditambah lagi
kekuatan media sosial yang pada dasarnya menggunakan tulisan yang dilengkapi
foto dan video, yang sangat berpengaruh dalam kehidupan dunia saat ini. Maka
tidak mengherankan berita yang benar dan tidak benar banyak bertebaran sehingga
membingungkan pembaca, yang terkadang dapat menimbulkan gesekan atau pun
konflik antara sesama. Maka dari itulah tulisan bisa menjadi senjata yang kuat
yang dapat digunakan siapa saja bahkan dapat mengabadikan sang penulisnya,
sehingga sudah seharusnyalah setiap penulis mengunakan akal sehat dalam menulis
dan menjunjung tinggi etika dalam menulis dan hukum yang berlaku tentang PERS.
“KARENA MERAWAT KEBADIAN BUKAN UNTUK MENABUR BENIH KONFLIK MELAINKAN MEMAJUKAN
PERADABAN”
No comments:
Post a Comment