Indonesia
merupakan bangsa yang besar baik dari jumlah penduduk, keragaman suku bangsa,
agama, budaya, dan letak Indonesia yang secara geografis sangat strategis.
Serta kekayaan alam yang melimpah ruah yang menyedot perhatian dunia
internasional untuk mengelola atau pun melindunginya, sehingga tidak mengherankan
pihak asing berlomba-lomba untuk mengelola sumber daya alam dimana bangsa
Indonesia secara SDM dan teknologi masih belum mampu untuk mengelolanya secara
mandiri.
Indonesia sendiri memiliki banyak julukan yang diambil dari pandangan
sekilas dunia internasional terhadap kekayaan alam Indonesia, seperti jambrut
katulistiwa, paru-paru dunia dan masih banyak lagi yang pada intinya
menggambarkan keadaan alam Indonesia. Tetapi apakah julukan ini masih bertahan?
mengingat bencana ekologi yang sering terjadi, pembabatan hutan secara masif,
penambangan dalam skala besar, dan masih banyak lagi masalah yang lainnya. Yang membuat julukan Indonesia yang membanggakan di era sebelumnya menjadi tidak lagi relevan
Indonesia sebenarnya memiliki benteng yang kokoh untuk mencegah masalah-masalah
seperti yang disebutkan di atas, yaitu dengan ideologi yang khas yaitu pancasila
dimana bangsa Indonesia dijuluki sebagai bangsa pancasilais. Tetapi masih
banyak para pemangku kekuasaan negeri ini yang tidak memahami pancasila atau memang tidak mampu paham padahal hanya termuat dalam lima sila yang utama.
1. KETUHANAN YANG MAHA ESA 2.
KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB 3. PERSATUAN INDONESIA 4. KERAKYATAN YANG
DIPIMPIN OLEH HIKMAT KEBIJAKSANAAN DALAM PERMUSYAWARATAN PERWAKILAN 5.
PERSATUAN INDONESIA.
Sangat sederhana dan memiliki makna yang sangat dalam sebenarnya tatapi banyak yang tidak paham atau memang tidak mau paham?, tidak tahu bagaimana mengimplementasikannya dalam kehidupan lebih tepatnya tidak mau?. Belajar dari cara
Menempatkannya dalam ranah sosiologis yuridis dan Filosofis, orde baru patut
diacungi jempol dalam hal ini. meskipun pada akhirnya kita melihat bahwa
pancasila hanya dijadikan tameng untuk menutupi bobroknya pemerintahan orde
baru.
Pada
era orde baru memang pancasila diserukan secara masif melalui media-media pada
masa itu, sehingga muncul ujaran yang mengatakan “kemana pun kaki melangkah
pagi, siang, petang selalu melihat dan mendengar pancasila” maka tidaklah heran
apabila orang-orang pada era itu sangat hafal dengan pancasila, meskipun tidak
terlalu memahami maknanya baik secara filosofis, sosiologis, maupun yuridisnya
tetapi setidaknya masyarakat satu ideologi yaitu pancasila. Dimana pada masa sekarang bahkan ada orang yang tidak hafal pancasila, apalagi maknanya.
Kemajuan pembangunan berdasarkan pancasila dibuktikan
dengan berkembangnya sendi-sendi kehidupan masyarakat, yang diarahkan untuk mengimplementasikan pancasila dalam kehidupan sehari-hari. dengan gencarnya pemerintah melakukan pembangunan di segala bidang, termasuk lah penyiapan SDM yang unggul dan berdaya saing yang mampu mengimplementasikan pancasila dalam keseharian mereka. meskipun pada prakteknya banyak
mengandalkan hutang luar negri. Pada era ini juga pancasila dapat dikatakan
menemui masa jayanya, yaitu dengan perkasanya pancasila karena selalu diusung
oleh partai politik untuk menarik simpati masyarakat, dikarenakan nilainya
sebagai modus Vivendi (kesepakatan luhur) bangsa Indonesia. Tatapi pada akhir orde baru gema pancasila mengendur, beriringan dengan terkuak bobroknya
pemerintahan orde baru dengan skandal utama korupsi, koalisi dan nepotisme
(KKN) yang memunculkan gerakan reformasi.
Hingga
sampai sekarang inilah yang menyebabkan pandangan orang terhadap pancasila
mulai berubah, bahkan banyak yang menjadikannya bahan olok-olok termasuk
dipelesetkan seperti banyak yang tersebar di dunia maya saat ini. Butir-butir
pancasila diplesetkan dengan mudahnya, yang pada zaman orde baru hal ini
dianggap sebagai penghinaan terhadap Negara yang pada saat itu aparat keamanan
akan bertindak tegas dan tidak jarang bertindak dengan kekerasan.
Dangkalnya
pemahaman pancasila menimbulkan banyak
masalah belakangan ini seperti hilangnya jati diri bangsa, munculnya kelompok-kelompok radikal yang mengatasnamakan agama,
terjadinya tauran antar pelajar, desa, suku, papa minta saham, pemimpin benar
yang dimusuhi, budaya ABS (asal bapak senang), undang-undang yang dibentuk
secara sepihak tanpa melibatkan unsur masyarakat, pengelolaan lahan yang tidak
memperhatikan aspek lingkungan dan dampaknya bagi masyarakat Dan masih banyak
lagi hal bobrok lainnya yang pada intinya merusak pembangunan bangsa indonesia.
Memang
sudah saatnya revolusi mental yang merupakan salah satu program pemerintahan
presiden jokowi, yang termuat dalam nawacitannya dan telah diakomodir oleh para
mentri melalui program-program kementrian yang saat ini banyak diserukan
seperti bela Negara oleh kementrian pertahanan, reformasi birokrasi oleh mentri
PAN-RB, Mengintenskan pendidikan pancasila dan kewarganegaraan, sosialisasi 4
pilar keebangsaan oleh MPR yang akhir-akhir ini digencarkan.
Untuk program bela nagara Luhut Binsar
Panjaitan menkopolhukam mengatakan bahwa program bela Negara bukan wajib
militer tetapi berisi pelatihan generasi muda untuk membangun rasa
nasionalisme, mengingat nasionalisme memang dalam keadaan yang memprihatinkan.
Persoalan nasionalisme dan ideologilah yang menjadi tantangan utama Indonesia
dan presiden telah melihatnya dan juga telah mengambil langkah yang tepat
dengan program kerja tinggal masyarakatlah yang bisa membantu untuk
Mensukseskannya.
karena rencana tampa dukungan, partisipasi, implementasi,
evaluasi, hanya akan menjadi cita-cita yang mengambang diangan-angan. dengan
diatasinya persoalan nasionalisme dan ideology dari akarnya dengan revolusi
mental, memang tidak akan berdampak langsung tetapi ini bisa dijadikan investasi
Indonesia untuk menjadi bangsa yang besar. Sehingga masalah-masalah yang
disebutkan diatas hilang, dan Indonesia akan menyongsong masa depan yang lebih
baik.
No comments:
Post a Comment