Tuesday, March 24, 2020

PANCASILA GEMA YANG MENGENDUR


Indonesia merupakan bangsa yang besar baik dari jumlah penduduk, keragaman suku bangsa, agama, budaya, dan letak Indonesia yang secara geografis sangat strategis. Serta kekayaan alam yang melimpah ruah yang menyedot perhatian dunia internasional untuk mengelola atau pun melindunginya, sehingga tidak mengherankan pihak asing berlomba-lomba untuk mengelola sumber daya alam dimana bangsa Indonesia secara SDM dan teknologi masih belum mampu untuk mengelolanya secara mandiri.

Indonesia sendiri memiliki banyak julukan yang diambil dari pandangan sekilas dunia internasional terhadap kekayaan alam Indonesia, seperti jambrut katulistiwa, paru-paru dunia dan masih banyak lagi yang pada intinya menggambarkan keadaan alam Indonesia. Tetapi apakah julukan ini masih bertahan? mengingat bencana ekologi yang sering terjadi, pembabatan hutan secara masif, penambangan dalam skala besar, dan masih banyak lagi masalah yang lainnya. Yang membuat julukan Indonesia yang membanggakan di era sebelumnya menjadi tidak lagi relevan

Indonesia sebenarnya memiliki benteng yang kokoh untuk mencegah masalah-masalah seperti yang disebutkan di atas, yaitu dengan ideologi yang khas yaitu pancasila dimana bangsa Indonesia dijuluki sebagai bangsa pancasilais. Tetapi masih banyak para pemangku kekuasaan negeri ini yang tidak memahami pancasila atau memang tidak mampu paham padahal hanya termuat dalam lima sila yang utama. 

1. KETUHANAN YANG MAHA ESA 2. KEMANUSIAAN YANG ADIL DAN BERADAB 3. PERSATUAN INDONESIA 4. KERAKYATAN YANG DIPIMPIN OLEH HIKMAT KEBIJAKSANAAN DALAM PERMUSYAWARATAN PERWAKILAN 5. PERSATUAN INDONESIA. 

Sangat sederhana dan memiliki makna yang sangat dalam sebenarnya tatapi banyak yang tidak paham atau memang tidak mau paham?, tidak tahu bagaimana mengimplementasikannya dalam kehidupan lebih tepatnya tidak mau?. Belajar dari cara Menempatkannya dalam ranah sosiologis yuridis dan Filosofis, orde baru patut diacungi jempol dalam hal ini. meskipun pada akhirnya kita melihat bahwa pancasila hanya dijadikan tameng untuk menutupi bobroknya pemerintahan orde baru. 
Pada era orde baru memang pancasila diserukan secara masif melalui media-media pada masa itu, sehingga muncul ujaran yang mengatakan “kemana pun kaki melangkah pagi, siang, petang selalu melihat dan mendengar pancasila” maka tidaklah heran apabila orang-orang pada era itu sangat hafal dengan pancasila, meskipun tidak terlalu memahami maknanya baik secara filosofis, sosiologis, maupun yuridisnya tetapi setidaknya masyarakat satu ideologi yaitu pancasila. Dimana pada masa sekarang bahkan ada orang yang tidak hafal pancasila, apalagi maknanya. 

Kemajuan pembangunan berdasarkan pancasila dibuktikan dengan berkembangnya sendi-sendi kehidupan masyarakat, yang diarahkan untuk mengimplementasikan pancasila dalam kehidupan sehari-hari. dengan gencarnya pemerintah melakukan pembangunan di segala bidang, termasuk lah penyiapan SDM yang unggul dan berdaya saing yang mampu mengimplementasikan pancasila dalam keseharian mereka. meskipun pada prakteknya banyak mengandalkan hutang luar negri. Pada era ini juga pancasila dapat dikatakan menemui masa jayanya, yaitu dengan perkasanya pancasila karena selalu diusung oleh partai politik untuk menarik simpati masyarakat, dikarenakan nilainya sebagai modus Vivendi (kesepakatan luhur) bangsa Indonesia. Tatapi pada akhir orde baru gema pancasila mengendur, beriringan dengan terkuak bobroknya pemerintahan orde baru dengan skandal utama korupsi, koalisi dan nepotisme (KKN) yang memunculkan gerakan reformasi.

Hingga sampai sekarang inilah yang menyebabkan pandangan orang terhadap pancasila mulai berubah, bahkan banyak yang menjadikannya bahan olok-olok termasuk dipelesetkan seperti banyak yang tersebar di dunia maya saat ini. Butir-butir pancasila diplesetkan dengan mudahnya, yang pada zaman orde baru hal ini dianggap sebagai penghinaan terhadap Negara yang pada saat itu aparat keamanan akan bertindak tegas dan tidak jarang bertindak dengan kekerasan. 

Dangkalnya pemahaman pancasila menimbulkan  banyak masalah belakangan ini seperti hilangnya jati diri bangsa, munculnya kelompok-kelompok radikal yang mengatasnamakan agama, terjadinya tauran antar pelajar, desa, suku, papa minta saham, pemimpin benar yang dimusuhi, budaya ABS (asal bapak senang), undang-undang yang dibentuk secara sepihak tanpa melibatkan unsur masyarakat, pengelolaan lahan yang tidak memperhatikan aspek lingkungan dan dampaknya bagi masyarakat Dan masih banyak lagi hal bobrok lainnya yang pada intinya merusak pembangunan bangsa indonesia.

Memang sudah saatnya revolusi mental yang merupakan salah satu program pemerintahan presiden jokowi, yang termuat dalam nawacitannya dan telah diakomodir oleh para mentri melalui program-program kementrian yang saat ini banyak diserukan seperti bela Negara oleh kementrian pertahanan, reformasi birokrasi oleh mentri PAN-RB, Mengintenskan pendidikan pancasila dan kewarganegaraan, sosialisasi 4 pilar keebangsaan oleh MPR yang akhir-akhir ini digencarkan. 

Untuk program bela nagara Luhut Binsar Panjaitan menkopolhukam mengatakan bahwa program bela Negara bukan wajib militer tetapi berisi pelatihan generasi muda untuk membangun rasa nasionalisme, mengingat nasionalisme memang dalam keadaan yang memprihatinkan. Persoalan nasionalisme dan ideologilah yang menjadi tantangan utama Indonesia dan presiden telah melihatnya dan juga telah mengambil langkah yang tepat dengan program kerja tinggal masyarakatlah yang bisa membantu untuk Mensukseskannya. 

karena rencana tampa dukungan, partisipasi, implementasi, evaluasi, hanya akan menjadi cita-cita yang mengambang diangan-angan. dengan diatasinya persoalan nasionalisme dan ideology dari akarnya dengan revolusi mental, memang tidak akan berdampak langsung tetapi ini bisa dijadikan investasi Indonesia untuk menjadi bangsa yang besar. Sehingga masalah-masalah yang disebutkan diatas hilang, dan Indonesia akan menyongsong masa depan yang lebih baik. 





No comments:

Post a Comment

Negara yang Tertinggal di Dunia Digital: Ketika Penipu Lebih Canggih dari Penegak Hukum

Negara yang Tertinggal di Dunia Digital: Ketika Penipu Lebih Canggih dari Penegak Hukum Perkembangan dunia saat ini bergerak dengan kecepat...