Tuesday, March 24, 2020

PNS profesi yang diminati dulu hinga sekarang


PNS profesi yang masih diminati dulu dan sekarang

Mungkin sebagian dari anda pernah membaca tulisan Mbak Nana atau Najwa Shihab, yang berpesan kepada generasi milenial untuk tidak menanamkan cita-cita hanya untuk menjadi seorang PNS yang katanya merupakan cita-cita yang telah ada sejak tahun tujuh puluhan “biar besok-besok hidup terjamin sampai tua” atau  menjadi  karyawan bumn biar gaji bagus, pensiun ada, besar pula maka itu juga adalah cita-cita generasi lama yakni paman-paman kita dulu, tente-tante kita dulu sma angkatan 90-an”. Dan ada kejadian di internet salah satu situs yang saya baca di situ di sebutkan bahwa ada seorang pemuda yang katanya sih ibunya memaksa untuk menjadi seorang PNS, yang kemudian menemukan sebuah tulisan yang menarik dari Najwa Shihab  kebetulan nih mengatakan bahwa generasi milenial  tidak haruslah menjadi seorang PNS kemudaian me-mention ibunya ini kejadian menurut sumber berita di internet ya tepatnya di twiter. Tapi naasnya bukannya Ibu pemuda itu tersadarkan bahwa generasi sekarang tidak harus lagi bercita-cita menjadi PNS malah mengatakan “itu kalo anaknya Najwa Shihab, loe kan anak gue” yang ternyata juga didukung oleh warga tweet lainya. Ada yang mengatakan “ngefans sama mamamu seketika” ada lagi “mending kalo Cuma gini, kalo ampe dicoret dari kartu keluarga malahan” sebagai informasi sumber tulisan ini saya dapat dari tayangan hitekno.com. oke apa yang bisa kita ambil dari tulisan tersebut , sebuah pandangan yang saling bertentangan antara yang satu dengan yang lainya apalagi mengenai tulisan mbak Nana atau ibu tersebut memiliki pendukungnya sendiri dan dimana kah posisi anda?

Disini memang kita tidak bisa menyimpulkan pandangan si ibu tersebut secara lengkap karena hanya berupa balsannya kepada sang anak, dan juga memastikan pandangan si ibu itu apakah menolak seutuhnya pandangan dari mbak nana tentang profesi PNS tersebut. Sekedar jokes kah atau berfikir secara realistis dengan mempertimbangkan keadaan yang ada di bumi tercinta Indonesia raya. Kenyataannya memang tidak bisa dipungkiri bahwa peminat CPNS ini masih lah sangat banyak seperti pada pendaftaran CPNS tahun 2019 itu tembus 5,05 juta orang dengan 4.432.598 yang mengisi formulir pendaftaran menurut data dari Badan Kepegawaian Negara selalu diminati bukan. Tentu beragam alasan yang menyertai para pelamar CPNS ini atau dalam istilah kerennya pejuang CPNS untuk mendaftar baik itu yang baru lulus atau sudah lama lulus pendidikan, yang belum dan sudah mendapatkan pekerjaan. Mungkin anda akan bertanya yang telah mendapatkan pekerjaan juga ikut mendaftar CPNS? Ya tentu saja karena memang tidak dilarangkan selagi memenuhi syarat yang ditetapkan kenapa tidak. Dan juga profesi CPNS memang masih menjanjikan seperti yang mbak Nana sebutkan “hidup terjamin dihari tua” ini berarti sampai usia pensiun diangka kalau tidak salah ya 60th.

Lantas anda berada di pihak yang mana terkait pandangan-pandangan ini mengikuti pandangan mbak Nana yang menurut saya memang seharusnya dilakukan oleh generasi milenial apalagi perkembangan dunia memang kearah itu. Sekarang semuanya dinamis orang bisa bekerja dari mana saja tanpa batasan ruang dan waktu dimana profesi-profesi ada yang sudah termakan zaman digantikan dengan teknologi terjadi pengurangan tenaga karyawan diperusahanan yang digantikan dengan mesin otomatis yang mampu memproduksi lebih banyak dari pada tenaga manusia, juga pelayanan adminitrasi yang bisa dilakukan secara online di Negara-negara yang teknologinya sudah maju. Tidak menutup kemungkinan juga semua profesi yang bisa atau dapat diambil alih oleh teknologi bisa hilang dan itu akan mengurangi lagi jumlah tenaga kerja yang diperlukan dimasa mendantang maka memang dari itu cara pandang seperti yang diungkapkan mbak Nana tidak boleh kiranya kita tolak secara radikal intinya mbak Nana ini menyarankan kita untuk berfikir secara out of the box tidak terpaku di situ-situ saja iya mungkin membandingkan dengan generasi 70, 80, 90, 2000-an ya memang benar demikian faktanya. Mereka mamang mencita-citakan hal yang demikian tetapi juga tidak perlulah di pertentangkan. kita sebagai mahluk yang berfikir tentu tidak boleh berfikir radikal ke suatu pandangan tersebut kita kan bisa mengambil jalan tengahnya dialektikanya. Dan menyesuaikan dengan tujuan hidup yang masing-masing kita miliki kan.

Setiap orang tua pasti menginginkan kehidupan yang terbaik untuk anaknya, entah dari segi pekerjaan, pendidikan, jodoh dan lain sebagainya, sehingga ia terkadang memaksakan kehendaknya demi tujuan terbaik ini tadi. Kita sebagai anak tentu juga memiliki pandangan berbeda dengan hal ini terkadang mendukung, juga terkadang tidak mendukung hal tersebut tapi pada intinya kita harus memahami tujuannya ini tadi. dan sembisa mungkin kita harus mencari jalan untuk menyatukannya agar selaras, tujuan yang baik yang terlalu terbebani dengan dirinya sendiri maka ia akan menjadi jahat atau tidak baik. seperti pandangan seorang penyair magis Kahlil Gibran tentang kejahatan ia mengatakan bahwa kejahatan itu tercipta dari kebaikan yang haus akan dirinya. Lantas bagaimana cara menyelaraskanya yakni dengan komunikasi kita sebaiknya membicarakan hal-hal prinsip yang kita miliki terkait yang diingingkan orang tua agar antara kehendak ini tadinya dapat selaras dan tidak terjadi konflik. tentunya dengan cara kita yang mensesuaikan nilai-nilai ketimuran ,terutama adat dan budaya dalam komunikasi. ini karena memang pembicaraan yang sifatnya prinsipil ini memang sangat lah sensitive salah-salah akan menimbulkan konflik. Mungkin yang saya bicarakan ini masih dalam tataran teori ya. karena pada praktiknya hanya kita yang bisa melakukannya, tapi pada intinya yang mau saya katakan adalah bahwa setiap kehendak yang ditujukan pada anaknya itu adalah baik adanya ketika bebenturan dengan kehdndak kita secara individual yang memiliki kehehendak sendiri maka perlu lah di selaraskan.

Jadi pada kesimpulanya disini saya tidak ingin mendukung secara radikal salah suatu pandangan khusnya terkait dengan hal ini karena sebagai manusia kita memilkiki tujuan dan pandangan hidup sendiri, sebagai pelajaran kita juga tidak bisa menutup diri dari pandangan orang lain karena memang demikian lah hidup, sebagai mahluk sosial yang saling membutuhkan satu dengan yang lainnya. Bagi yang saat ini masih bercita-cita atau ingin menjadi PNS silahkkan dilanjutkan dan bersaing secara sehat (tanpa jalur belakang) dan menerima apapun hasilnya ketika anda sudah dalam tahap tes dan ketika sudah jadi PNS maka mengabdilah dengan sunguh-sunguh dan cintai pekerjaan sebagai pns tersebut dan mungkin anda bisa menemukan pandangan yang bagus dengan hal ini dengan membaca the prophet karya kahlil Gibran tentang bekerja. Tatapi bagi anda yang tidak ingin atau berkeinginan menadi PNS jangan lah melakukan atau mengatkan yang tidak pantas juga melemahkan bagi orang yang masih meiliki keginginan untuk manjadi PNS. jadi pada intinya kita harus berfikir selayaknya  seorang filusuf yang berpandangan luas terhadap sesuatu dan berusaha untuk mencari jawaban terhadap sesuatu hal yang selalu berpedoman pada kebenaran berdasarkan pengetahuan.

kiranya agak melantur tolong dimaklumi....salam hormat, tetap sehat saudara.

No comments:

Post a Comment

Negara yang Tertinggal di Dunia Digital: Ketika Penipu Lebih Canggih dari Penegak Hukum

Negara yang Tertinggal di Dunia Digital: Ketika Penipu Lebih Canggih dari Penegak Hukum Perkembangan dunia saat ini bergerak dengan kecepat...