Hidup itu keras, perlu kerja untuk makan. Dan persaingan
menjadi suatu keharusan yang mau tidak mau suka ataupun tidak suka pasti kita
alami. Ada yang mengatakan itu hukum alam, dimana yang kuat mengalahkan yang
lemah,sehingga akhirnya yang lemah ini disingkirkan dari roda kehidupan.
Jadi paham kan dimana letaknya hidup itu keras. Semua manusia pernah mengalami berada di titik paling rendah dalam hidupnya, yang membuat ia hanya memiliki dua pilihan apakah menyerah, atau bangkit dari titik tersebut.
Jelas itu pilihan yang harus di buat tapi apakah mengambil dua pilihan itu mudah seperti membalikan telapak tangan saja? Tentu berbeda pandangan tersebut antar individu, bisa saja kita memandang suatu perkara yang menimpa kita adalah masalah terbesar dalam hidup, tetapi bagi orang lain perkara itu justru hal sepele atau bahkan lebih kecil dari pada yang ia alami.
Hal itu seperti kita yang saat ini misalnya mengalami kekeringan sulitnya untuk mendapatkan pasokan air bersih untuk mandi, mencuci, memasak dan lain sebagainya, akan tetapi penantian kita akan air bersih ini terkadang tidak akan lama maka akan datang hujan dalam kurun waktu kurang lebih dua bulan atau tiga bulan.
Tapi bagaimana dengan saudara kita dia Afrika yang dalam kurun waktu 6 bulan mereka belum tentu mendapatkan air bersih atau pun turun hujan karena daerah yang begitu tandus jadi apakah masalah kita akan kekeringan ini lebih besar dibanding di Afrika?.
Seseorang yang terbiasa hidup dalam kelimpahan air dan tanpa sadar telah menghamburkannya akan sangat terpukul jika terjadi kekeringan, dimana ia yang bisanya bebas mengunakan air sesukanya tiba-tiba kesulitan untuk mendapatkan air bersih.
Tetapi tidak dengan orang yang telah terbiasa dengan keadaan kekeringan ia akan lebih tenang dalam menghadapi kekeringan. Kenapa bisa demikian? Dan apakah kita ini sadar bahwa kita di planet yang kita tinggali ini hanyalah sebatas butiran debu di alam semesta, bukankah kita hanya sibuk memikirkan apa yang harus ku makan hari ini dan berapa harga sembako dipasaran apakah naik atau turun dan pendapatan ku apakah cukup untuk hidup di massa depan?.
Jadi paham kan dimana letaknya hidup itu keras. Semua manusia pernah mengalami berada di titik paling rendah dalam hidupnya, yang membuat ia hanya memiliki dua pilihan apakah menyerah, atau bangkit dari titik tersebut.
Jelas itu pilihan yang harus di buat tapi apakah mengambil dua pilihan itu mudah seperti membalikan telapak tangan saja? Tentu berbeda pandangan tersebut antar individu, bisa saja kita memandang suatu perkara yang menimpa kita adalah masalah terbesar dalam hidup, tetapi bagi orang lain perkara itu justru hal sepele atau bahkan lebih kecil dari pada yang ia alami.
Hal itu seperti kita yang saat ini misalnya mengalami kekeringan sulitnya untuk mendapatkan pasokan air bersih untuk mandi, mencuci, memasak dan lain sebagainya, akan tetapi penantian kita akan air bersih ini terkadang tidak akan lama maka akan datang hujan dalam kurun waktu kurang lebih dua bulan atau tiga bulan.
Tapi bagaimana dengan saudara kita dia Afrika yang dalam kurun waktu 6 bulan mereka belum tentu mendapatkan air bersih atau pun turun hujan karena daerah yang begitu tandus jadi apakah masalah kita akan kekeringan ini lebih besar dibanding di Afrika?.
Seseorang yang terbiasa hidup dalam kelimpahan air dan tanpa sadar telah menghamburkannya akan sangat terpukul jika terjadi kekeringan, dimana ia yang bisanya bebas mengunakan air sesukanya tiba-tiba kesulitan untuk mendapatkan air bersih.
Tetapi tidak dengan orang yang telah terbiasa dengan keadaan kekeringan ia akan lebih tenang dalam menghadapi kekeringan. Kenapa bisa demikian? Dan apakah kita ini sadar bahwa kita di planet yang kita tinggali ini hanyalah sebatas butiran debu di alam semesta, bukankah kita hanya sibuk memikirkan apa yang harus ku makan hari ini dan berapa harga sembako dipasaran apakah naik atau turun dan pendapatan ku apakah cukup untuk hidup di massa depan?.
Orang mengatakan pengalaman adalah guru yang paling
berharga, yang memberikan kita pelajaran yang lebih luas daripada ilmu
pengetahuan. Apakah benar demikian, bukankah pengalaman itu merupakan sesuatu
yang kita alami saja. dan itu hanya sebatas sampai usia berapa kita saat ini.
apakah di usia 100th kita akan masih jernih mengingat pengalaman kita saat usia 25th? Atau bahkan kita sudah menghilang dari dunia ini. Sedangkan ilmu pengetahuan adalah kumpulan pelajaran sejak manusia pertamakali ada dan diturunkan dari generasi ke generasi untuk bertahan hidup, tentu ini hanya menurut pendapat saya.
Ilmu pengetahuan pada era ini diajarkan secara formal melalui pendidikan dari jenjang terendah PAUD, TK, sampai kepada perguruan tinggi. Dan ini lah yang menjadi pengalaman manusia yang berarti ia mengalami pendidikan formal dalam mempelajari ilmu pengetahuan semua aspek kehidupan diajarkan.
Dari pengetahuan sosial, pengetahuan alam, matematik dan bahasa. Dengan tujuan untuk memberdayakan setiap individu ini agar nantinya memiliki skill atau kemampuan untuk mengembangkan kehidupannya sendiri. Dan di Indonesia sebagian orang beranggapan bahwa pendidikan lah yang akan nantinya menjadi bekal untuk memasuki kehidupan dan meningkatkan status atau taraf hidupnya.
Ini tentu sesuatu yang benar untuk dilakukan tapi juga seharusnya bukan untuk dijadikan pembenaran. Apakah kita masih mendengar seseorang yang mengatakan bahwa seorang sarjana harus mendapatkan jodoh yang sarjana pula dan di bawah sarjana pendidikannya di katakan tidak pantas sehingga orang tua tidak Merestui hubungan tersebut.
Pertanyaannya di era yang sekarang itu apa anggapan kita apakah pemikiran yang demikian bisa di katakan kolot atau sudah ketinggalan zaman karena ada yang mengatakan dengan bangganya saya tidak tamat SD bisa menjadi seorang pengusaha yang sukses kok. Dan memiliki aset atau pun tabungan yang lebih besar dari seorang sarjana yang paling jatuhnya hanya sebagai pegawai negeri atau pun swasta yang mendapatkan gaji tiap bulan sedangkan saya tiap hari atau bahkan tiap detik bisa menghasilkan uang.
apakah di usia 100th kita akan masih jernih mengingat pengalaman kita saat usia 25th? Atau bahkan kita sudah menghilang dari dunia ini. Sedangkan ilmu pengetahuan adalah kumpulan pelajaran sejak manusia pertamakali ada dan diturunkan dari generasi ke generasi untuk bertahan hidup, tentu ini hanya menurut pendapat saya.
Ilmu pengetahuan pada era ini diajarkan secara formal melalui pendidikan dari jenjang terendah PAUD, TK, sampai kepada perguruan tinggi. Dan ini lah yang menjadi pengalaman manusia yang berarti ia mengalami pendidikan formal dalam mempelajari ilmu pengetahuan semua aspek kehidupan diajarkan.
Dari pengetahuan sosial, pengetahuan alam, matematik dan bahasa. Dengan tujuan untuk memberdayakan setiap individu ini agar nantinya memiliki skill atau kemampuan untuk mengembangkan kehidupannya sendiri. Dan di Indonesia sebagian orang beranggapan bahwa pendidikan lah yang akan nantinya menjadi bekal untuk memasuki kehidupan dan meningkatkan status atau taraf hidupnya.
Ini tentu sesuatu yang benar untuk dilakukan tapi juga seharusnya bukan untuk dijadikan pembenaran. Apakah kita masih mendengar seseorang yang mengatakan bahwa seorang sarjana harus mendapatkan jodoh yang sarjana pula dan di bawah sarjana pendidikannya di katakan tidak pantas sehingga orang tua tidak Merestui hubungan tersebut.
Pertanyaannya di era yang sekarang itu apa anggapan kita apakah pemikiran yang demikian bisa di katakan kolot atau sudah ketinggalan zaman karena ada yang mengatakan dengan bangganya saya tidak tamat SD bisa menjadi seorang pengusaha yang sukses kok. Dan memiliki aset atau pun tabungan yang lebih besar dari seorang sarjana yang paling jatuhnya hanya sebagai pegawai negeri atau pun swasta yang mendapatkan gaji tiap bulan sedangkan saya tiap hari atau bahkan tiap detik bisa menghasilkan uang.
Maka dari itulah kita seharusnya tidak perlu terburu-buru
Menjustifikasi atau memvonis seseorang terlalu cepat hanya dari kulitnya yang
terkelupas yang terlihat oleh mata kita, apakah itu dari Pendidikan, pekerjaannya, atau pun sesuatu yang melekat di dalam dirinya yah kecuali
seorang yang mabuk itu kita perlu memandang demikian meskipun orang itu nantinya
dapat melakukan titik balik dalam kehidupan.
Terkadang kita perlu mengambil suatu pandangan yang luas akan kehidupan yang memandang luas hidup itu sebagaimana adanya mengembangkan sikap toleransi, saling menghormati, yang pada intinya memandang manusia sebagaimana layaknya manusia. Mungin anda mencari kata perlu tempaan kerasnya dimana?
Disini saya mengajak anda untu berfikir betapa luasnya kehidupan sehingga setiap hal yang kita lalui alami termuat dalam pengalaman kita. ambil pelajaran dalam pengalaman tersebut, bahwa seluruh kejadian yang kita alami adalah tempaan kita baik yang keras atau pun yang lembut akan selalu menjadi bagian dalam diri kita. So disitu lah seharusnya alasan yang menjadikan pribadi kita berkarakter yang khas dan unik. Tidak ada yang bisa mengubah mu kecuali diri mu sendiri, dan karakter yang engkau bangun adalah pondasi kehidupan yang akan menentukan seberapa kuat dirimu menghadapi kehidupan.
Terkadang kita perlu mengambil suatu pandangan yang luas akan kehidupan yang memandang luas hidup itu sebagaimana adanya mengembangkan sikap toleransi, saling menghormati, yang pada intinya memandang manusia sebagaimana layaknya manusia. Mungin anda mencari kata perlu tempaan kerasnya dimana?
Disini saya mengajak anda untu berfikir betapa luasnya kehidupan sehingga setiap hal yang kita lalui alami termuat dalam pengalaman kita. ambil pelajaran dalam pengalaman tersebut, bahwa seluruh kejadian yang kita alami adalah tempaan kita baik yang keras atau pun yang lembut akan selalu menjadi bagian dalam diri kita. So disitu lah seharusnya alasan yang menjadikan pribadi kita berkarakter yang khas dan unik. Tidak ada yang bisa mengubah mu kecuali diri mu sendiri, dan karakter yang engkau bangun adalah pondasi kehidupan yang akan menentukan seberapa kuat dirimu menghadapi kehidupan.
Hanya sebatas pemikiran dari seorang penganggur, yang
berproses memahami kehidupan yang tidak terpahami.
No comments:
Post a Comment