Setiap orang memiliki cara
pandang tersendiri tentang idealismenya, termasuk seorang sarjana yang terkadang
sangat idealis tentang kelanjutan hidup dan karirnya. Tentang kemana akan melanjutkan
kehidupannya setelah menjadi seorang sarjana itu sangat berat dan sulit bagi sebagian orang. apakah
tetap berada di jalur keilmuan yang selama ini ditempuh? ataukah keluar dari
jalur tersebut setelah sekian lama dan menghasilkan gelar!.
Memang tidak bisa dipungkiri bahwa kualitas seseorang tidak bisa hanya diukur dari gelar kesarjanaan yang ia sandang akan tetapi masih banyak lagi faktor yang lain.
Banyak yang perlu
dibicarakan tentang idealisme, salah satunya adalah tentang pilihan mendapatkan pekerjaan
dengan bantuan ”orang dalam”. sebagai seseorang terpelajar, tentunya dalam hal
mendapatkan pekerjaan, cara murni atau lulus sesuai dengan kemampuan kita sendiri itu
sangat berarti. dan lebih berkesan ketimbang dengan bantuan "orang dalam", akan
tetapi pada kenyataannya hal itu sangat sulit dan terlalu naif apalagi kemampuan seorang tersebut yang pas-pasan.
Berbicara tentang kemampuan yang
pas-pasan ini, sebenarnya dalam setiap ujian si pencari kerja dihadapkan kepada 3 hal yang utama yakni : pertama
adalah kemapuan akademik, Psikologi yang menyangkut kejiwaannya, teamwork/kemampuan bekerjasama dengan orang lain (koreksi jika salah) ini semua termuat dalam psikotes. perlu dicatat tidak semua orang memiliki kemampuan yang baik dalam semua aspek Ini, ada yang menguasai 1 aspek ada yang menguasai 2 aspek dan sangat jarang
menguasai 3 aspek sekaligus. tapi kenyataannya setiap pencari kerja dituntut untuk dapat memenuhi setiap
aspek ini karena sang pemberi pekerjaan ini tentunya mengharapkan tenaga kerja yang terbaik. dan psikotes masih dijadikan patokan penilaian bagi pemberi kerja saat ini.
kita tidak tahu kedepannya, apakah ada cara lain selain psikotes
Pertanyaannya adalah apakah
dengan penilaian psikotes ini membuktikan bahwa seseorang itu lebih baik dari pada
orang lainnya?. "tentu tidak bukan!" dari sudut pandang si pemberi pekerjaan tentunya ia akan mengambil seseorang dengan nilai yang paling tinggi dari hasil psikotes tersebut, dan perlu dicatat bahwa kita tidak akan pernah tahu trik seseorang dalam mengerjakan tes tersebut. karena ini semua akan berpengaruh, misalnya orang yang telah berpengalaman atau mempelajari soal-soal psikotes memiliki kemungkinan yang besar untuk menguranginya jadi jawabannya akan disesuaikan dengan kemauan si pemberi kerja bukan berdasarkan apa yang dimiliki didalam dirinya.
hal ini didasarkan pada pengertian psikotes itu sendiri yakni prosedur pemeriksaan yang telah mengalami pembukuan, yang dimaksudkan untuk menyelidiki dan menetapkan sifat-sifat psikis khusus individu.ini menurut KBBI
ini membuktikan bahwa memang pada dasarnya dan seharusnya, psikotes itu tidak bisa dicurangi karena merupakan penilaian yang baku dan telah dibukukan, sehingga dapat dipercaya. tapi pada kenyataanya ini bisa saja dicurangi dengan cara mempelajari soalnya kemudian melakukannya secara berulang-ulang (trik ini belum terbukti) dan "bantuan orang dalam" tentunya. "tapi perlu ditegaskan lagi setiap instansi pemerintah maupun swasta katanya mulai sekarang sudah bersih dari orang dalam!!."
lantas bagi si pencari pekerjaan, hal ini
tentu tidak bisa dijadikan patokan bahwa orang itu lebih berkualitas antara satu dengan yang lainnya. karena pada setiap aspek yang diujikan dalam psikotes itu adalah penilaian. dan tidak semua orang dapat memenuhi syarat tuntutan dari si pemberi secara 100% dan psikotes hanya sebatas alat untuk melakukan penyelidikan terkait sifat-sifat psikis seseorang bukan sesuatu yang mutlak untuk kita yakini bahwa kita misalnya yang tidak lolos psikotes mencap diri lebih buruk dari orang yang lolos tentu itu merupakan hal yang sangat keliru.
Pada kenyataanya setiap individu itu unik memiliki kelebihan dan kekurangan, ada nilai didalam diri kita yang lebih unggul dari orang lain, begitupun sebaliknya. misalnya meskipun
nilai akumulasi kita kalah dari orang maka tidak perlu berkecil hati, mungkin ada aspek lain diluar itu yang bisa kita lebih unggul membuka kesempatan kita untuk berkarya ditempat lain atau bahkan memulai usaha sendiri. jadi penting untuk tetap selalu berpikir positif.
Sebenarnya banyak faktor yang mempengaruhi, seseorang diterima atau tidak dalam sebuah pekerjaan oleh si pemilik pekerjaan bukan semata-mata psikotes. maka sebagai si pencari pekerjaan kita tidak boleh berputus asa apabila kita kalah dalam persaingan, apalagi sifat manusia yang selalu dapat berkembang sesuai ia alami dan pelajaran yang ia dapat dari pengalamannya. Hal ini yang menjadikan bahwa manusia sebenarnya tidak akan jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya.
Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa
ada kalanya nilai seseorang yang mengikuti tes psikologi pertama dan kedua
cenderung meningkat meskipun terkadang peningkatan itu tidak terlalu signifikan.
Ada faktor yang lebih kuat dari sekedar lulus murni sebenarnya yaitu faktor
orang dalam yang bisa Menjungkir balikan hasil tes maupun penilaian, yang
membuat tes hanya sekedar formalitas baginya. Di Negara ini sebenarnya sudah
tidak asing lagi dengan cara ini mau masuk tentara, mau masuk jadi Polisi, mau
jadi PNS, pegawai BUMN atau swasta sekalipun. sudah menjadi rahasia umum seseorang di minta puluhan hingga
ratusan juta oleh si orang dalam ini yang akan membantu proses masuknya si
pencari kerja. praktik haram yang disembunyikan sedemikian rapinya sehingga
praktik ini sulit sekali terendus (catat ini dilakukan oleh oknum yah guys).
Mudahan praktik ini tidak lagi untuk saat ini dengan adanya revolusi mental dan pembenahan di kalangan TNI,POLRI dan ASN/PNS BUMN dan Swasta sendiri yang hingga kini banyak diminati masyarakat untuk dijadikan sebagai tujuan pekerjaan.
Disinilah awal mula kebuntuan
idealisme seorang sarjana yang ingin mendapatkan pekerjaan dengan cara yang
murni tanpa embel-embel “orang dalam”, yang berusaha menggunakan ijazah
kesarjanaan dengan cara murni dan penuh kebanggan. menjadi sia-sia karena apalah
arti kesarjanaan kalau tidak bisa memenuhi 3 aspek yang ditetapkan si pemberi
pekerjaan, dan memenuhi kebutuhan akan "orang dalam" yang bisa Memutarbalikan
hasil tes. entahlah
Tentu sangat sulit mempertahankan idealisme ingin mendapatkan pekerjaan idaman dimasa sekarang ini dengan cara murni, baik
itu dinilai dari kemampuan sendiri yang harus memenuhi 3 aspek si pemberi kerja,
persaingan dangan ribuan atau pun jutaan orang lainnya yang juga mencari
pekerjaan. Lalu Apa yang harus dilakukan untuk menyikapi fakta ini?
Mencari pekerjaan dimasa sekarang
ini memang cukup sulit, tapi bukan tidak mungkin juga. karena setiap tahun
pasti ada saja perusahaan, instansi pemerintah, atau lembaga lainnya yang
membuka lowongan, ada juga usaha-usaha baru yang bermunculan juga mencari
karyawan lantas bagaimana dengan diri sendiri menyikapi hal ini apakah kita
akan masuk ke sana atau membuka usaha atau peluang kerja sendiri ? Saya pikir ini ranah keputusan sendiri yang hanya bisa di intervensi Emak lu, dan juga
basis kemapuan yang kita miliki bukan.
Maka hal yang kita perlu lakukan
adalah mempersiapkan segala sesuatu yang dapat menunjang apa yang akan dilakukan. seperti misalnya mempersiapkan dokumen-dokumen untuk yang mencari kerja,
mempersiapkan modal, waktu, niat, tekad, motivasi pengetahuan, dan jangan lupa
link untuk mempermudah distribusi produk, atau juga mungkin link ke preman baik yang berdasi atau yang mondar mandir di pasar. Ini penting untuk menjaga
keamanan usaha yang akan kita tekuni.
Untuk pencari kerja sendiri
di zaman sekarang seperti yang saya sebutkan diatas seperti 3 aspek tuntutan
pemberi kerja atau bisa lebih banyak, dan juga orang dalam (catat, ini penting
untuk memperlancar, pisss) perlu juga sertifikat, jadi tidak ada salahnya
selagi menganggur kita mengikuti pelatihan baik yang gratis atau pun berbayar
daripada rebahan terus lama-lama jadi rebah benaran. Kan ribet kalau dah begitu!!!. Lagian sekarang pelatihan udah bisa secara
online yah meskipun kekurangannya di hal praktek langsung, tapi setidaknya ini membuka pikiran
kita dan membantunya untuk terus aktif kan.
Angin segar itu bernama kartu
prakerja, lantas apa itu kartu prakerja? Merupakan program pengembangan
kompetensi berupa bantuan biaya yang ditujukan untuk pencari kerja, pekerja
ter-PHK atau pekerja yang membutuhkan
peningkatan kompetensi. Jadi disini kita akan mendapatkan pelatihan
untuk meningkatkan kemapuan yang dilakukan dengan pemberian pelatihan baik
secara offline atau online yang diadakan oleh pemerintah. Disini kita akan
mendapatkan manfaat berupa dana yang akan diberikan untuk membayar pelatihan
yakni sebesar 1jt Rupiah, dan uang saku sebesar 600rb selama 4 bulan. dan kalau
tidak salah setelah mengikuti pelatihan juga akan diadakan survei yang akan
diberikan imbalan sebesar 50rb untuk satu kali survey, dimana survey ini
dilakukan sebanyak 3 kali jadi kita akan mendapatkan uang sebesar 150rb sebagai
tambahan. Ayo buruan daftar btw ini udah masuk gelombang dua loh ya !!!.
Yah pilihan dari pada rebahan kan
entah itu saat ini anda baru lulus, lagi dalam proses pencarian pekerjaan
ideal, terkena PHK, atau berniat untuk pindah pekerjaan mencari tambahan,
khusus untuk pencari tambahan memang sebaiknya anda membidik bidang lain deh
bukan pra kerja beri kesempatan yang belum dapat pekerjaan atau yang terkena
PHK karena mereka ini lebih susah dari anda yang hanya sekedar mencari tambahan
tolonglah jangan egois yah bro & sis, karena yang hidup yah bukan hanya kamu
saja. Dah begitu saja. Jadi tetap semangat baik yang dalam pencarian atau
korban PHK selama covid-19 bersatu kita teguh, eitsss tapi jangan lupa jaraknya lebih
kurang 1 meter ya….
NB : jikalau anda ingin mendaftar
prakerja dan membutuhkan info terkait prakerja langsung saja ke website nya,
kalau bisa jangan melalui link dari media massa kalau anda tidak mau
terdoktrin dengan kata-kata negative, sekian…

No comments:
Post a Comment