![]() |
| Image by titiknol |
Apakah
jalan yang Aku lalui saat ini sudah mencapai titik kebuntuan?, disaat semuanya
hanya tentang Aku, yang telah memasuki usia dewasa tanpa Aku sendiri
menyadarinya, usia tidak pernah berhenti berjalan tapi kedewasaan atau
kematangan usia, merupakan pilihan atau sesuatu yang harus di usahakan?. Aku
saat ini berusia 23 tahun usia yang memang seharusnya telah matang dimana
seorang manusia dianggap cakap dan siap menjalani kehidupan dan memikul
tanggung jawab akan hidupnya dan orang lain di sekitarnya.
Tapi kenyataanya Aku
sendiri masih mempertanyakan siapa sebenarnya diriku ? apa yang ingin Aku capai
dalam hidup ? disaat orang lain seusiaku telah berjuang untuk mencapai visi dan
misi dalam hidupnya. Atau bahkan telah memikul tanggung jawab sebagai kepala
keluarga karena keinginan sendiri atau sebuah keterpaksaan. Maka benarlah bahwa
hidup adalah pilihan mau berada dijalan benar atau berada di jalan yang salah,
dijalan kebaikan atau dijalan kejahatan yang kesemuanya adalah pilihan kita
sendiri.
Buntu
itulah yang Aku rasakan tapi rasanya lebih tepat adalah kehampaan, kadang Aku
kembali mengulang memori lama tentang bagaimana diriku terbentuk dalam
pergumulan hidup saat berinteraksi dengan orang lain maupun dalam lingkungan
sekitarku saat ini. Saat mengulas itu “menyalahkan” orang lain atas apa yang
terjadi pada diriku saat ini adalah hal yang menjadi titik focus pemikiran ku
yang pertama kali terbesit di kepala.
Ada juga perasaan terpingirkan dalam
pergaulan karena tidak mengikuti apa yang dituntut dalam pergaulan juga begitu
membekas dalam diriku. Sunguh bukan hal yang mudah untuk dapat kembali masuk
dalam pergulan apalagi yang kekinian seperti saat ini, atau hanya aku yang
terlalu terbawa perasaan dan juga sebagai pembenaran atas sifat pemalu yang ada
pada diri sendiri yang semangkin di kuatkan dengan adanya pengalaman tersebut
entah lah!!!
Satu
hal yang Aku tahu pasti adalah bahwa Aku merasakannya saat berinteraksi dengan
orang lain rasa gugup yang menyerang tiba-tiba dalam diriku begitu menyesakan,
terpaku tidak bergerak seakan dunia berhenti itulah yang Aku rasakan, sehingga
aku sendiri cendrung menghindar saat akan berinteraksi dengan sekitar, dan aku
yakin ini merupakan kirstalisasi dari apa yang telah terjadi atau pengalaman
yang telah kulalui dalam berinteraksi dengan orang lain dan perlakuan
lingkungan keluarga terhadap Aku saat berinteraksi dengan mereka, sehingga
sugesti yang masuk dalam pikiran ku membuat generalisasi dengan pola kata
“keluarga ku sendiri saja memperlakukan ku tidak baik saat interaksi atau komunikasi
apalagi orang lain” dan ini membentuk sifat “malas” saat berinteraksi dengan
orang lain ini muncul dan benar menyusahkan di era sekarang ini dimana
kecakapan dalam kumunikasi dan interaksi dengan lingkungan dan orang lain
menjadi modal yang sangat berharga untuk mengarungi kehidupan.
Mungkin ini
hanya sebatas repleksi dari apa yang terjadi segala pergolakan pemikiran
tentang Aku warga bumi yang mengelilingi matahari tanpa disadari,akan tetapi kenyatanya
persoalan ini semakin kompleks, dan sampai lah pada suatu kesimpulan yang cukup
mengkawatirkan sebenarnya, terbesit seketika dalam pemikiran bahwa aku tidak
bisa membuat orang lain nyaman dalam sentiap interaksi yang kulakukan dengan
mereka, yang ditunjukan dengan reaksi orang tersebut yang cenderung ingin cepat
mengakhiri komunikasi dan pergi. rumit memang!!!!
Sampai
akhirnya Aku menyadari pemikiran semacam ini hanya lah pembenaran terhadap
sifat buruk yang Aku miliki, menyalahkan orang lain atas apa yang terjadi pada
diri sendiri merupakan sebuah kebodohan yang ada pada diriku, karena ketidak
mampuan ku sendiri untuk mengusahakan kedewasaan. Miris memang ketika aku baru
menyadarinya dan baru mengalami masa peralaihan di saat usia yang tidak
seharusnya berada di titik ini. Selama ini yang terjadi adalah bahwa aku telah
memilih tunduk pada jalan pikiran negative yang ada pada diriku sendiri,
seperti tidak bersukur, egois, penakut, pecundang, pemalu, tidak percaya diri,
selalu memasang topeng, mudah terbawa
perasaan, berfikir negative, pesimis, dan masih banyak sifat buruk atau
negative lainya yang aku sendiri memilih tunduk pada hal tersebut, padahal aku
bisa memilih jalan sebaliknya tetapi tidak aku pilih. Jadi siapa yang bisa
disalahkan ? yupsss.. itu adalah diri Aku sendiri.
Lagi-lagi
ini adalah tentang semua “menyalahkan” yang merupakan awal dari kehancuran dan
merupakan bibit ungul dari konflik, yang dapat tumbuh subur dalam diri kita
apalagi dibumbui oleh perasaan dendam, iri hati, cemburu maka kehancuran tidak
akan pernah dapat terbendung untuk terjadi. Begitulah konflik batin yang
terjadi dalam diri Aku yang aku rasakan saat ini adalah pertentangan demi
pertentangan yang merupakan bagian dari konflik yang menjauhkan pribadi dengan
pribadi lainya bahkan diri dengan diri sendiri yang membuat orang sering kali
melarikan diri dari persoalan memilih untuk senang dengan barang-barang yang
memabukan yang membuat ia lepas dari penderitaan dunia walau hanya sementara,
maka patut di amini peryataan Budha yang mengatakan bahwa hidup adalah
penderitaan. Jadi kita harus mengusahakan hidup untuk dapat lepas dari
lingkaran penderitaan dengan hidup yang bahagia walaupun sifatnya relative.
Aku pun sampai pada
satu kesimpulan, apa yang bisa Aku lakukan
adalah tobat dan berdamai dengan segala hal yang ada. dan bersukur dengan
segala keadaan dan apapun yang dimiliki. Jangan pernah tunduk pada kejahatan
didalam dirimu atau pun diluar dirimu jadilah diri berdasarkan suatu kebenaran
yang diyakini dirimu yang telah terbukti dalam keberlansungan peradaban sampai
saat ini. maka jadilah “garam serta
terang bagi dunia”. Berkarya lah dan berkerjalah dengan cinta disitu lah engkau
menyatukan dirimu dengan dirimu dengan sesamadan dengan Tuhan yang engkau
yakini.
Ini kisah Aku yang
berjalan diantara kegelapan, menuju mega-mega cahaya tak berperi ditengah arus
perputaran bumi yang tidak tersadari, bagaimana ia berputar meskipun kita
melihat adanya pergantian siang dan malam tapi bisa kah engkau merasakannya?

No comments:
Post a Comment