Saturday, April 18, 2020

Kisah si Aku

Image by titiknol

Apakah jalan yang Aku lalui saat ini sudah mencapai titik kebuntuan?, disaat semuanya hanya tentang Aku, yang telah memasuki usia dewasa tanpa Aku sendiri menyadarinya, usia tidak pernah berhenti berjalan tapi kedewasaan atau kematangan usia, merupakan pilihan atau sesuatu yang harus di usahakan?. Aku saat ini berusia 23 tahun usia yang memang seharusnya telah matang dimana seorang manusia dianggap cakap dan siap menjalani kehidupan dan memikul tanggung jawab akan hidupnya dan orang lain di sekitarnya. 

Tapi kenyataanya Aku sendiri masih mempertanyakan siapa sebenarnya diriku ? apa yang ingin Aku capai dalam hidup ? disaat orang lain seusiaku telah berjuang untuk mencapai visi dan misi dalam hidupnya. Atau bahkan telah memikul tanggung jawab sebagai kepala keluarga karena keinginan sendiri atau sebuah keterpaksaan. Maka benarlah bahwa hidup adalah pilihan mau berada dijalan benar atau berada di jalan yang salah, dijalan kebaikan atau dijalan kejahatan yang kesemuanya adalah pilihan kita sendiri.

Buntu itulah yang Aku rasakan tapi rasanya lebih tepat adalah kehampaan, kadang Aku kembali mengulang memori lama tentang bagaimana diriku terbentuk dalam pergumulan hidup saat berinteraksi dengan orang lain maupun dalam lingkungan sekitarku saat ini. Saat mengulas itu “menyalahkan” orang lain atas apa yang terjadi pada diriku saat ini adalah hal yang menjadi titik focus pemikiran ku yang pertama kali terbesit di kepala. 

Ada juga perasaan terpingirkan dalam pergaulan karena tidak mengikuti apa yang dituntut dalam pergaulan juga begitu membekas dalam diriku. Sunguh bukan hal yang mudah untuk dapat kembali masuk dalam pergulan apalagi yang kekinian seperti saat ini, atau hanya aku yang terlalu terbawa perasaan dan juga sebagai pembenaran atas sifat pemalu yang ada pada diri sendiri yang semangkin di kuatkan dengan adanya pengalaman tersebut entah lah!!!

Satu hal yang Aku tahu pasti adalah bahwa Aku merasakannya saat berinteraksi dengan orang lain rasa gugup yang menyerang tiba-tiba dalam diriku begitu menyesakan, terpaku tidak bergerak seakan dunia berhenti itulah yang Aku rasakan, sehingga aku sendiri cendrung menghindar saat akan berinteraksi dengan sekitar, dan aku yakin ini merupakan kirstalisasi dari apa yang telah terjadi atau pengalaman yang telah kulalui dalam berinteraksi dengan orang lain dan perlakuan lingkungan keluarga terhadap Aku saat berinteraksi dengan mereka, sehingga sugesti yang masuk dalam pikiran ku membuat generalisasi dengan pola kata “keluarga ku sendiri saja memperlakukan ku tidak baik saat interaksi atau komunikasi apalagi orang lain” dan ini membentuk sifat “malas” saat berinteraksi dengan orang lain ini muncul dan benar menyusahkan di era sekarang ini dimana kecakapan dalam kumunikasi dan interaksi dengan lingkungan dan orang lain menjadi modal yang sangat berharga untuk mengarungi kehidupan. 

Mungkin ini hanya sebatas repleksi dari apa yang terjadi segala pergolakan pemikiran tentang Aku warga bumi yang mengelilingi matahari tanpa disadari,akan tetapi kenyatanya persoalan ini semakin kompleks, dan sampai lah pada suatu kesimpulan yang cukup mengkawatirkan sebenarnya, terbesit seketika dalam pemikiran bahwa aku tidak bisa membuat orang lain nyaman dalam sentiap interaksi yang kulakukan dengan mereka, yang ditunjukan dengan reaksi orang tersebut yang cenderung ingin cepat mengakhiri komunikasi dan pergi. rumit memang!!!!

Sampai akhirnya Aku menyadari pemikiran semacam ini hanya lah pembenaran terhadap sifat buruk yang Aku miliki, menyalahkan orang lain atas apa yang terjadi pada diri sendiri merupakan sebuah kebodohan yang ada pada diriku, karena ketidak mampuan ku sendiri untuk mengusahakan kedewasaan. Miris memang ketika aku baru menyadarinya dan baru mengalami masa peralaihan di saat usia yang tidak seharusnya berada di titik ini. Selama ini yang terjadi adalah bahwa aku telah memilih tunduk pada jalan pikiran negative yang ada pada diriku sendiri, seperti tidak bersukur, egois, penakut, pecundang, pemalu, tidak percaya diri, selalu memasang topeng, mudah  terbawa perasaan, berfikir negative, pesimis, dan masih banyak sifat buruk atau negative lainya yang aku sendiri memilih tunduk pada hal tersebut, padahal aku bisa memilih jalan sebaliknya tetapi tidak aku pilih. Jadi siapa yang bisa disalahkan ? yupsss.. itu adalah diri Aku sendiri.

Lagi-lagi ini adalah tentang semua “menyalahkan” yang merupakan awal dari kehancuran dan merupakan bibit ungul dari konflik, yang dapat tumbuh subur dalam diri kita apalagi dibumbui oleh perasaan dendam, iri hati, cemburu maka kehancuran tidak akan pernah dapat terbendung untuk terjadi. Begitulah konflik batin yang terjadi dalam diri Aku yang aku rasakan saat ini adalah pertentangan demi pertentangan yang merupakan bagian dari konflik yang menjauhkan pribadi dengan pribadi lainya bahkan diri dengan diri sendiri yang membuat orang sering kali melarikan diri dari persoalan memilih untuk senang dengan barang-barang yang memabukan yang membuat ia lepas dari penderitaan dunia walau hanya sementara, maka patut di amini peryataan Budha yang mengatakan bahwa hidup adalah penderitaan. Jadi kita harus mengusahakan hidup untuk dapat lepas dari lingkaran penderitaan dengan hidup yang bahagia walaupun sifatnya relative.

Aku pun sampai pada satu kesimpulan, apa yang bisa  Aku lakukan adalah tobat dan berdamai dengan segala hal yang ada. dan bersukur dengan segala keadaan dan apapun yang dimiliki. Jangan pernah tunduk pada kejahatan didalam dirimu atau pun diluar dirimu jadilah diri berdasarkan suatu kebenaran yang diyakini dirimu yang telah terbukti dalam keberlansungan peradaban sampai saat ini.  maka jadilah “garam serta terang bagi dunia”. Berkarya lah dan berkerjalah dengan cinta disitu lah engkau menyatukan dirimu dengan dirimu dengan sesamadan dengan Tuhan yang engkau yakini.
Ini kisah Aku yang berjalan diantara kegelapan, menuju mega-mega cahaya tak berperi ditengah arus perputaran bumi yang tidak tersadari, bagaimana ia berputar meskipun kita melihat adanya pergantian siang dan malam tapi bisa kah engkau merasakannya?

No comments:

Post a Comment

Negara yang Tertinggal di Dunia Digital: Ketika Penipu Lebih Canggih dari Penegak Hukum

Negara yang Tertinggal di Dunia Digital: Ketika Penipu Lebih Canggih dari Penegak Hukum Perkembangan dunia saat ini bergerak dengan kecepat...