Pemerintah telah menempuh berbagai cara untuk dapat memberikan keringanan bagai masyarakat yang rentan, dengan berbagai model bantuan langsung yang menyasar warga miskin yang selama ini ada, maupun mereka yang kehilangan pekerjaan dan mata pencaharian, sebagai dampak virus covid 19 ini. Setiap langkah tersebut memang menyasar masyarakat yang miskin dan rentan miskin akan tetapi persoalannya adalah apakah bantuan tersebut sudah tepat sasaran?
Persoalan tidak tepat sasaran bantuan pemerintah ini
memang sudah menjadi rahasia umum ditengah masyarakat, karena sebagai
penerima yang hanya menerima begitu saja, terkadang tidak mau ambil pusing, bagaimana pendataan yang di lakukan pemerintah apakah pendataannya dilakukan
secara tertutup ? atau ditutup-tutupi dan bisa juga kuota penerima yang diberikan terbatas. "ya harus berpikiran positif juga dong biar imbang", Yang berakibat tidak
tepatnya sasaran bantuan sehingga ada warga yang benar-benar membutuhkan justru
tidak menerima bantuan.
Dari persoalan inilah Pak Didin kepala dusun, salah satu Desa
di Kecamatan Sajingan Besar Sambas yang wilayahnya dekat perbatasan antara Indonesia dan Malaysia. berinisiatif
untuk secara mandiri membantu warganya yang kurang mampu atau berada di garis
kemiskinan. yang justru tidak tersentuh bantuan pemerintah. Dengan menggagas berdirinya posko jalinan kasih yang
saat ini bernama rumah amal Desa Sanatab, dengan menyasar warga yang benar-benar
layak untuk dibantu tetapi belum menerima bantuan dari pemerintah atau pun
dinas sosial terkait.
Rumah Amal Desa
Sanatab
Kepedulian menjadi dasar utama pak Didin beserta warga dan Babinkambtibmas Desa Sanatab, untuk mengagagas
berdirinya rumah amal Desa Sanatab ini. yang dilakukan dengan cara menghimpun sumbangan dari
masyarakat, perusahan, instansi di sekitar lingkungan rumah amal. atau bagi
siapa saja tanpa batasan yang memiliki pendapatan atau penghasilan lebih dan
ingin berbagi kepada sesama. "jikalau bukan kita siapa lagi" kata beliau.
sumbangan yang diberikan dapat berupa barang barang kebutuhan pokok, dan tidak
menerima sumbangan dalam bentuk uang secara langsung. Pendataan warga yang
benar-benar membutuhkan pun dilakukan secara manual, dengan mendatangi
langsung rumah-rumah yang layak untuk mendapatkan bantuan sehingga ketepatan
sasarannya penyalurannya dapat terjamin. dan juga "dengan cara ini dapat diketahui secara pasti siapa saja yang menerima bantuan dari pemerintah dan yang tidak tetapi menurut penilaian kita layak untuk dibantu" jelas pak Didin
kita menyadari bahwa pemerintah memiliki kriteria tersendiri dalam menentukan siapa warga yang layak dan tidak layak untuk dapat menerima bantuan, dan juga kuotanya terbatas jadi tidak semua warga bisa mendapatkannya, dan masuk kriteria sebagai penerima manfaat, belum lagi ada "permainan" yang dilakukan oknum tertentu didalamnya. jadi "kita tidak perlu terlalu berharap kepada pemerintah, yang terpenting apa yang bisa kita lakukan saat ini untuk membantu warga kita yang membutuhkan karena itu lah rumah amal ini berdiri" tegas beliau.
"lantas seperti apa kriteria pemerintah menentapkan warga yang layak atau tidak layak untuk dibantu?"
Pengukuran indikator kemiskinan yang selama ini dilakukan
oleh pemerintah dalam hal ini dinas sosial maupun Negara-negara lain di dunia, menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basis
needs approach) seseorang untuk hidup secara normal. dengan ini Kemiskinan dipandang
sebagai ketidakmapuan dari sisi
ekonomi untuk memenuhi kebutuhan
dasar berupa makanan dan bukan makanan
(Ali Khomsan, Arya Hadi Dharmawan dkk, indicator kemiskinan 2015).
Di Indonesia
sendiri sebenarnya konsep ini dikembangkan lebih jauh, agar benar-benar sesuai
dengan kultur masyarakat Indonesia sehingga dapat menentukan dengan tepat angka kemiskinan yang terjadi sehingga kebijakan
yang diambil juga tepat.
Lantas kenapa masih terjadi adanya ketidaktepatan pemberian
bantuan ini? Sebagai informasi berikut
merupakan kriteria miskin menurut KEMENSOS RI yang meliputi :
- Luas lantai bangunan tempat tinggal kurang dari 8m2 per orang
- Jenis lantai tempat tinggal terbuat dari tanah/bambu/kayu murahan.
- Jenis dinding tempat tinggal dari bambu/rumbia/kayu berkualitas rendah tembok tanpa plaster
- Tidak memiliki fasilitas buang air besar/ bersama-sama dengan rumah tangga lain.
- Sumber penerangan rumah tangga tidak menggunaan listrik
- Sumber air minum berasal dari sumur/mata air tidak terlindungi/sungai/air hujan
- Bahan bakar untuk memasak sehari hari adalah kayu bakar/arang/minyak tanah
- Hanya mengkonsumsi daging/susu/ayam satu kali seminggu
- Hanya membeli satu stel pakaian baru dalam setahun
- Hanya sanggup makan sebanyak satu /dua kali dalam sehari
- Tidak sanggup membayar pengobatan di puskesmas/poliklinik
- Sumber penghasilan kepala rumah tangga adalah : petani dengan luas lahan 500m2, buruh tani, nelayan, buruh bangunan, buruh perkebunan, dan atau pekerjaan lainnya dengan pendapatan dibawah Rp. 600.000 per bulan
- Pendidikan tertinggi kepala rumah tangga tidak sekolah/tidak tamat SD/tamat SD
- Tidak memiliki tabungan/ barang yang mudah dijual dengan minimal Rp 500.000 seperti sepeda motor kredit/non kredit/emas,ternak, kapal motor, dan barang modal lainnya.
dengan kriteria yang demikian "seharusnya" tidak akan ada
warga miskin yang terlewat dalam mendapatkan bantuan karena ditunjukan dengan
sangat jelas siapa yang layak. Sehingga dapat dikatakan permasalahannya ada
pada sang pendata atau pihak yang melakukan pengambilan data penerima
manfaat tersebut, yang bertugas mengumpulkan data di lapangan seperti apa, apakah sudah sesuai dengan standar prosedur atau hanya bekerja
dibalik meja dengan mengandalkan data lama dengan sedikit pembaharuan tanpa
turun langsung ke lapangan. mungkin kita harus lebih perduli dengan hal ini karena kriterianya jelas demikian. apakah anda tersadar, entah lah!!!
Kembali lagi ke rumah amal, gagasan pendirian rumah amal yang
dilakukan oleh Pak Didin ini sebenarnya dapat dilakukan di manapun, dalam lingkup
apapun, dan memang pendirian rumah amal ini murni bentuk kepedulian kepada
sesama. bukan hanya pada saat terjadi pandemi tetapi lebih jauh dari itu yakni
sejak beberapa tahun yang lalu. dengan semangat yang sama yakni gotong royong
dan kekeluargaan khas Indonesia dari latarbelakang apapun anda. Dibatas negeri sekalipun semangat ini tetap
tumbuh dengan suburnya, lantas bagaimana dengan daerah anda dan diri anda sendiri maukah berbuat?
"saya juga yakin siapa yang memiliki kemauan pasti ada jalan"
Di Negara-Negara Eropa saat ini seperti di Italia gerakan
peduli kepada sesama ini pun, belakangan ini semangkin berkembang dan memang perlu untuk diterapkan ditempat
kita berada!. seperti yang dilakukan warga Italia misalnya dengan meletakan keranjang yang digantung didepan
rumah mereka kemudian diisi dengan
makanan, entah itu memberi atau menerima bisa dilakukan. atau meletakan makanan didepan rumah entah itu di pagar depan gerbang, yang nantinya orang
bebas untuk mengambil ataupun meletakan nya bahkan ada yang berkeliling membagikan secara langsung seperti para youtuber dan pesohor lainnya.
"tentu berbagi adalah sesuatu yang tumbuh dari kesadaran maka dari itu dilakukan tanpa intervensi dari pihak manapun".Di zaman modern seperti sekarang ini dengan kecangihan teknologi informasi tentu kepedulian kita kepada sesama dapat disalurkan dengan beragam platform dan banyak juga yang membuka wadah berbagi secara online dan terpercaya. Dengan mengecek latar belakang dari platform tersebut kita dapat mengetahui kinerjanya dan keterbukaan dalam pengunaan serta penyalurannya termasuk lah dompet duafa.org kitabisa.com, rumah zakat, dan lain sebagainya yang anda bisa jadikan sebagai rumah amal di tempat anda atau anda memiliki waktu yang bisa anda gunakan untuk mendirikan rumah amal di daerah anda tentu bisa dilakukan.
Maka dari itu temukan cara berbagi anda dan buatlah semuanya
menjadi indah bersatu melawan covid 19 dengan kebaikan berbagi untuk sesama.
NB : "tulisan ini di ikutsertakan dalam lomba blog menebar kebaikan yang diselengarakan oleh dompet Dhuafa" donasidisini terimakasih(thnks)


No comments:
Post a Comment