Liga Champions tahun ini akan segera berakhir, meskipun sempat terkendala oleh pandemi virus corona yang melanda hampir di seluruh penjuru dunia. Laga-laga liga champions dimainkan dengan format yang berbeda pada tahun ini, dimana pada tahu sebelumnya sebelum final laga-laga dimainkan secara home and away. Tidak tahun ini laga hanya dimainkan satu kali dengan sistem knock-out, atau dalam satu laga langsung gugur bagi tim yang kalah.
Banyak cerita yang terjadi dalam pase-pase final dan catatan
sejarah pun terukir dengan tersingkirnya Barcelona oleh sang finalis Bayern
munchen dengan skor telak 2-8. Yang menjadi cerita baru dangan kekalahan tim
yang di prediksi oleh banyak pihak akan menjadi salah satu finalis UCL tahun
ini tapi apa daya dewi fortuna berkata lain.
Lantas apakah final kali ini adalah final ideal yang
ditunggu oleh banyak kalangan bukan hanya para fans kedua klub tersebut?
Melihat dari perjalanan kedua klub pada laga-laga UCL di 16
besar liga champion tahun ini kedua klub hampir imbang dalam bertemu tim-tim
besar favorit juara maupun tim yang dianggap medioker secara peluang dan tim.
Tentu para player football manager (FM) paham akan hal ini karena data
laga-laga terakhir yang dimainkan oleh klub lawan adalah hal yang penting untuk
diketahui apakah ia dalam tren win track
atau lost track.
Pada laga-laga yang dimainkan Bayern Munchen di babak 16
besar sampai final dimulai dengan pertemuan dengan chelsea pada laga ini masih
dalam format home and away dimana Bayern munchen mengilas chelsea dengan
agregat 7-1 kemudian bertemu Barcelona di perempat final di laga ini format liga champions tidak lagi
home and away tapi knock-out. Dengan berhasil menyingkirkan barcelona dengan skor 8-2 untuk kemenangan Bayern Munchen.
Di semi final Bayern munchen bertemu dengan lyon yang
bermodal kemenangan dramatis atas kandidat terkuat finalis UCL musim ini
Manchester city yang juga mengejutkan banyak pihak terutama mereka yang
menjagokan manchester city untuk melangkah ke final apalagi klub ini gagal
bersaing dalam perebutan gelar liga primer inggris. Dan berambisi setidaknya
bisa mengambil alih gelar yang di pegang oleh sang juara liga inggris musim
ini yang juga merupakan juara UCL musim lalu Liverpool.
Datang dengan kepercayaan diri tinggi lyon harus menelan pil
pahit setelah Bayern munchen mampu membungkam mereka dengan skor 3-0 apalagi
kita melihat tidak ada perbedaan kentara antara permainan lyon ketika menghadapi
Manchester city di laga lyon menghadapi Bayern munchen. Yang mengandalkan
permainan dengan serangan balik dan pressing ketat yang memanfaatkan celah dari
kesalahan-kesalahan lawan.
Sayangnya permainan Bayern Munchen tidak lah seperti Manchester city yang tetap konsisten dengan pertahanan yang rapi untuk mencegah
counter attack sampai akhir laga, sedangkan Manchester city banyak melakukan
kesalahan terutama umpan-umpan pendek yang tidak memperhitungkan pressing ketat
dari lawan yang menjadi celah terbesar Manchester city pada laga menghadapi lyon
dan berbuah kemenangan bagi lyon. Satu kesalahan lyon dalam laga menghadapi
Bayern munchen adalah menyamakan permainannya dengan Manchester city.
Maka catatan Bayern Munchen pada 4 laga terakhir di 16 besar
sampai final adalah W- W-W-W belum lagi di tambah di fase grup 6 laga dengan
kemenangan dan gol yang mencapai 24 gol
Lantas apakah PSG akan menjadi lawan yang ideal untuk
permainan Bayern Munchen?
PSG mengawali babak 16 besar dengan bertemu dengan Dortmund
dan pada leg pertama dengan kekalahan 2-1 dan pada leg ke 2 mampu bangkit dan
meraih kemangan 2-0 di laga selanjutnya pada fase perempat final PSG bertemu
dengan atlanta dengan meraih kemenangan 2-1 dan berhak melaju ke semifinal UCL
2020 bertemu dengan Leipzing di laga ini PSG mampu tampil dominan dengan
gelontoran 3 gol tanpa balas.
Dilaga ini PSG tampil dengam formasi 4-3-3 dimana transisi
permainan berjalan sangat mulus setiap serangan yang dilancarkan oleh Leipzing
mampu di blok bahkan sebelum masuk kedalam kotak pinalti. Ini terbukti dengan
statistik tendangan kearah gawang Leipzing yang hanya di angka 3 kali dari total 14
tendangan tentu angka yang kecil menginggat total tebakan yang sama dengan PSG.
Kesamaan jumlah tendangan ini berbanding terbalik dengan angka
tendangan kearah gawang PSG yang dominan dengan angka 9 kali dimana 3
diantaranya berbuah gol meskipun dua gol diantaranya berasal dari situasi bola
mati, dan 1 diantaranya memalui situasi open play.
Dengan formasi pakem 4-3-3 dengan 1 gelandang jangkar yang
diberikan kepada marquinos layak diapresiasi sebagai gelandang yang mampu
menghentikan serangan dan membaca pergerakan bola yang kemudian melakukan
organisasi permainan untuk melakukan transisi denagan sangat baik dari situasi
menyerang ke bertahan atau sebaliknya bertahan ke menyerang.
Dengan penguasaan bola dan permainan dengan angka yang
mencapai 58% kemenangan di laga ini adalah kemenangan yang layak didapatkan PSG
yang memang tampil dominan apalagi gelontoran 3 gol di babak pertama sudah menegaskan
keunggulan tersebut. Yang terbukti tidak
mampu dibalas oleh Leipzing mesipun secara efektifitas masih sangat jauh dari
harapan.
Dengan demikian statistik keseluruhan PSG di babak 16 besar
sampai final adalah sebagai berikut L-W-W-W
dari 4 laga mengalami 1 kekalahan dan 3 kemenangan. Sedangkan gelontoran
gol nya di babak tersebut memang tidaklah secemerlang Bayren munchen dengan
gelontoran fantastis di setiap laganya lantas dengan fakta tersebut siapa yang
anda jagokan?
Melihat situasi yang demikian sebagai pemain game football
manager tentu kita memahami mekanisme permainan secara menyeluruh tim dengan
statistik mentereng belum tentu memiliki jaminan kemenangan dalam setiap
laganya kecuali anda melakukan exit load ketika akan kalah mengulanginya
sampai meraih kemenangan dan itu cara yang curang!
Maka dari itu saya sebagai pendukung netral tidak akan
memihak pada salah satu tim. setiap tim masih memiliki peluang yang sama, tidak
lebih besar antara satu dengan yang lainnya terutama tentang peluang kemenangan.
Lantas bagaimana kita membaca situasi siapa yang lebih
memiliki peluang besar untuk meraih kemenangan pada laga kali ini?
Baik PSG maupun Bayern Munchen dari segi statistik kedua tim
memang tidak terlalu jauh berbeda terutama dari segi kemenangan di laga-laga
yang dimainkan belum lama ini kecuali dari segi gelontoran gol dimana Bayern Munchen jelas lebih banyak dan dari segi klub yang dihadapi di laga terakhir
UCL Bayern Munchen lebih banyak menghadapi klub besar di bandingkan PSG.
Meskipun catatan demikian tidak akan menjadi penentu siapa
yang bakal meraih kemenangan dilaga kali ini, akan tetapi dengan catatan yang
demikian bisa dijadikan sebagi rujukan yang berarti untuk melakukan prediksi
siapa yang bakal juara dan berapa gol.
Gaya bermain
Dari segi gaya bermain kedua tim ini bisa dikatakan sebagai
tim yang mengusung gaya menyerang di buktikan dengan penguasaan bola dalam
setiap laganya yang mendominasi dari segi tembakan dan tembakan on terget termasuk dalam segi penguasaan bola. Akan tetapi
kalau kita berbicara dari segi penguasaan bola tentu laga terakhir antara
Bayern menghadapi barcelona berkata
lain.
Di laga ini Bayern kalah penguasaan bola dari barcelona dengan
49% berbanding 51% akan tetapi catatan statistik total tendangan dan antara ke
dua tim berbanding sangat jauh dimana total tembakan Bayern munchen mencapai 26
tembakan dan 14 diantaranya on terget atau mengarah ke gawang. Sedangkan barcelona hanya melepaskan total 7 tembakan dengan 5
diantaranya on target.
Akan tetapi justru Bayern munchen yang keluar sebagi
pemenang di laga ini dengan skor yang fantastis, sedangkan dalam laga
menghadapi lyon yang Notebenya menerapkan permainan yang lebih kearah bertahan
mereka mampu mendominasi dengan penguasaan bola sebesar 66% berbanding 34%
dengan menghasilkan 3 gol total tembakan 19 dan on terget 8 kali.
Baca juga :
Sedangkan PSG sedikit lebih kalem dengan total tembakan
setiap laganya yang berada dibawah Bayern munchen akan tetapi dalam
laga-laganya mereka selalu mampu mendominasi laga. Pertanyaannya adalah siapa
diantara mereka yang akan mendominasi laga dan total tembakan mengingat
keduanya mengusung gaya permainan menyerang.
Secara statistik Bayern munchen lebih fleksibel dalam hal
taktik pakem formasi mereka adalah 4-2-3-1 di topang dengan kreatifitas di
sektor play maker dan 2 Gelandang jangkar yang juga memiliki kreatifitas belum
lagi kemampuan membaca ruang dari thomas muller yang bisa saja memecah solidnya
pertahanan PSG yang memainkan gelandang jangkar tangguh dalam beberapa laga
terakhir marquinos. Dalam formasi 4-3-3 diaman marquinos menjadi gelandang
jangkar, dengan insting sebagai center back ditopang kemapuan mobilitas tinggi
ala BOX to BOX menjadi jaminan mulusnya transisi permainan dari PSG.
Laga ini akan menjadi ujian bagi sektor pertahanan kedua tim
karena terbukti kedua tim ini memiliki barisan penyerang yang terbukti tajam
dan memiliki jaminan gol dalam setiap laganya makanya laga ini kemenangannya
akan ditentukan oleh lini pertahanan siapa yang paling solid dialah pemenangnya.
Dari segi efektifitas pertahanan Bayern Munchen lebih
efektif dan memiliki peluang besar untuk menghentikan para penyerang bintang
PSG karena ujian mereka lebih besar musim ini dengan laga-laga menghadapi tim
besar yang memiliki penyerang kelas dunia. Akan tetapi fakta bahwa bola itu
bulat bisa saja merubah hasil dari permainan karena dalam setiap detik
permainan berjalan peluang-peluang tersebut akan terus di perbaharui bisa turun
bisa naik untuk kedua tim.
Hal itu lah yang bisa saja setiap player football manager
memilih pergantian taktik karena melihat permainan timnya tidak efektif dan
tidak menghasilkan peluang yang memadai
dan cenderung untuk kalah jadi perubahan taktik adalah keputusan yang
akan diambil untuk mengubah keadaan.
Apakah anda memiliki argumen yang berbeda terkait hal ini, silahkan tuliskan di kolom komentar sebelum menyaksikan laga nanti kiranya ada argumen yang menyanggah atau memperbaiki bisa saling berbagi.
